Perempuan yang Memetik Bintang untuk Ibunya-Cerpen oleh Depri Ajopan

Mereka memperhatikan saya yang melangkah gontai melewati lorong sempit itu, kemudian menerobos masuk ke dalam hutan membawa hati yang terguncang. Angin kencang yang berhembus menyeret debu jalanan menerpa pohon-pohon besar yang berjejer, rantingnya meliuk-liuk. Rambut saya yang tergerai diterjang angin menutup kecantikan saya. 

“Mishel, kau mau ke mana? Kau lihat cuaca gelap, sebentar lagi hujan turun,” suara yang melengking itu keluar dari mulut seorang perjaka yang ceroboh. Ia selalu menaburi saya kata-kata yang mematahkan mental, setelah saya menolak cintanya di bibir pantai malam itu. Ia tak terima dengan keputusan saya yang bijak sana. Memang laki-laki seperti dia tak pantas diterima cintanya. 

“Saya ingin pergi jauh, memetik bintang untuk ibu saya yang lagi sakit. Saya tidak akan berhenti di perjalanan sebelum mendapatkan bintang itu,” suara saya yang bergema begitu keras, dan saya memegang dada untuk memperkuat hati seperti berpuisi. Saya tak menoleh lagi ke belakang, tapi terus melangkah, tatapan saya fokus ke depan. Saya mendengar ia tertawa berlebihan, kemudian mengejek saya dengan kalimat-kalimat yang membabi buta, mungkin ia menganggap saya gila, sementara saya menganggap ia tak ada. Saya takpeduli apapun yang disampaikannya, tak akan membuat saya runtuh. 

Kilat memotret bumi, suara guntur menderu-deru meruntuhkan nurani. Saat cuaca semakin tidak bersahabat seperti itu, seorang perjaka masih saja menghujatku dengan kalimat-kalimat yang menyudutkan. Sekali lagi saya katakan, saya tak peduli dengan rengekannya itu. Saya masih saja berjalan membawa pikiran yang tak terganggu. Saya menginjak tanah yang berdoa walaupun hujan sebentar lagi akan turun menyemprot bumi.

“Perempuan gila, mana ada bintang siang hari,” dugaan saya benar, ia membuntuti saya beberapa langkah dari belakang, kata-katanya semakin tajam. Saya masih dengar suara itu sayup-sayup, dan saya terus melangkah meninggalkannya. Dalam perjalanan, saya melawati hutan belantara, menginjak tanah yang licin, kemudian setelah meneruskan perjalanan, saya yang memakai sepatu menginjak duri-duri kecil yang tidak melukai kaki saya. Seandainya saya tidak pakai sepatu, goresannya hanya membuat saya gigit bibir. Dalam perjalanan ketika hujan deras turun, saya berlari-lari kecil, sampai menemukan sebuah gubuk beratab rumbia. Saya yang kedinginan naik ke atas gubuk itu, dan berteduh di situ. Saya menemukan ada seorang anak laki-laki kecil yang tertidur dalam gubuk itu. Saya sengaja tak membangunkannya, membiarkan ia pulas. Saya berlindung dari kedinginan,  membuka tas ransel saya, mengganti pakaian. Saya naik ke atas gubuk itu, berbaring di dekat anak kecil tersebut.

“Kakak ciapa?” tiba-tiba anak kecil itu tersentak dari tidurnya, mengucek-ucek mata, dan ia menguap lebar tanpa menutup mulut. Saya mencium bau napasnya yang berhembus menerpa hidung saya.

“Saya Mishel dek, kakak numpang sebentar ya di pondokmu ini. Kalau boleh tahu, nama adek siapa?” Saya mengelus-elus rambutnya, matanya tajam memplototi saya, dan ia menepis tangan saya, kemudian ia langsung berdiri. Ia menatap saya dengan pandangan curiga seperti ketakutan. 

“Mau menculi ya?” Saya menatap sekeliling bermaksud menyelidik. Di belakang pondok ada dua batang pohon mangga, buahnya kosong. Di sebelahnya satu batang pohon jambu, juga tidak berbuah. Saya heran apa yang mau dicuri di sini. Saya perhatikan apa ada barang-barang, sama sekali tidak ada yang berharga.

“Tenang, saya bukan pencuri. Kakak hanya mau berteduh sebentar, setelah hujan reda kakak lekas pergi.” Saya yang melihat anak kecil itu ketakutan sengaja tidak mengelus rambutnya seperti tadi. Jangankan mengelus rambutnya seperti yang sering saya lakukan pada anak yatim ketika berjumpa di jalanan, menyentuh tangannya pun tidak. 

“Kakak bohong, kakak pasti penculi cepelti yang lain. Pelgi cebelum ibuku datang,” ia mengibas-ibaskan tangannya mengusir saya, membuat saya risih. Saya senang jika ibunya datang karena itu lebih baik. Saya jelaskan siapa saya dan apa maksud saya datang kemari, hanya berteduh sebentar, menunggu hujan reda. Tapi saya tidak melihat siapa pun di sini selain anak kecil itu. Akhirnya saya mengalah, saya turun dan berteduh di bawah berharap secepatnya hujan berhenti.

“Pelgi dali cini, pelgi, nanti kubilang cama ibuku,” ia masih saja teriak-teriak, membuat saya bisa memastikan keberadaan saya di sini tidak aman. Ingin rasanya saya membanting anak kecil itu. Dan saya memilih tidak pedui teriakan si kecil itu sampai hujan benar-benar berhenti. Saya pergi meneruskan langkah mencari bintang untuk ibu saya, dan saya harus memetiknya apapun yang terjadi, meskipun nyawa jadi gantinya. Mungkin kau tahu kawan, apa maksud bintang dalam cerita yang saya susun ini. Saya tidak harus mengatakannya padamu menggunakan bahasa transpran, karena bintang di sini sebagai bentuk simbolisasi. Kau sendiri yang bertugas menafsirkannya. Dan tidak ada kesalahan dalam menafsirkan karya sastra yang bersifat toleransi. Jika kau sepuluh orang pembaca karya sastra ini menafsirkan dengan penafsiran yang berbeda. Maka jawabannya seperti ini, boleh-boleh saja. Semakin kayalah nilai karya sastra yang sedang kau cicipi ini setelah adanya perbedaan itu. 

“Kau siapa?” baru beberapa langkah saya meninggalkan pondok reot alias gubuk itu seorang perempuan yang belum terlalu tua menyapa setelah saya yang melintas melempar senyum basa-basi. Saya yakin ia ibu dari anak itu.

“Saya Mishel Buk,” saya sendiri yang merampas tangannya, mengajak bersalaman. Ibu itu menatap wajah saya lekat-lekat, ia benar-benar memperhatikan saya seperti ia pernah melihat saya di suatu tempat dan sepertinya ia mengenal saya. Saya yang buru-buru akhirnya melangkah sambil tersenyum. Ia menyuruh saya berhenti. 

“Kau putrinya Siska?” Saya terkejut. Kenapa ia mengenal ibu saya. Saya hanya mengangguk menunggu penjelasan. 

“Kau ingin memetik bintang untuk ibumu?” keterkejutan saya semakin bergema. 

“Maaf, Ibu siapa?” ia tak menjawab saya, tapi merangkul saya kemudian menyeret saya ke gubuk itu lagi. Ia mempersilakan saya duduk, tanpa menyuguhkan makanan apa pun. 

“Kaulah yang sering datang dalam mimpi saya Mishel, sehingga saya berubah wujud jadi manusia.” Pikiran saya yang diaduk-aduknya dengan penjelasan yang tak masuk akal itu semakin kacau. 

“Ibu bukan manusia, terus siapa?” tanya saya mulai merasa ketakutan yang saya paksakan menyembunyikannya karena saya merasa dia perempuan gila.

“Saya dan anak kecil itu dari pelanet lain, sebut saja negeri ketiga. Kau tidak usah takut pada saya. Saya makhluk baik-baik dan beragama juga menjalankan perintah. Kau seorang muslim bukan?” Saya yang merasa antara percaya dan tidak belum menjawab, hanya melongo. Ia membawa saya ke bawah pohon mangga. Menggali tanah menggunakan alat yang sudah ia sediakan, lalu ia mengambil sebuah peti kecil yang tertimbun, menyerahkannya pada saya.

“Bukalah peti itu! Itu untukmu. Saya sudah memetiknya untuk kau serahkan sendiri pada ibumu yang sakit. Sekarang lekas pulang. Hati-hati di jalan.” Dengan degub jantung yang berdebar saya mengikuti suruhannya membuka peti kecil itu. Saya menemukan tujuh bintang kecil di dalamnya. Saya yang terharu, melihat anak kecil itu, ia duduk bersila di dalam pondok memeperhatikan kami. Dari matanya yang teduh saya tahu ia sudah memberi izin untuk kehadiran saya di sini. 

“Sekarang cepat pergi dari sini, sebelum orang-orang jahat datang!” dengan permintaan yang terburu-buru, ia menyuruh saya meninggalkan tempat ini. Saya membawa peti kecil yang berisi tujuh bintang dengan hati yang berbunga, sambil mengangguk-angguk, memasukkannya dalam tas ransel. Setelah melangkah beberapa langkah, saya menoleh kembali ke belakang lupa berterimakasih. Ia dan anak kecil itu sudah hilang entah ke mana.   

Baca Juga: Gigs, Cerpen Karya Heri Hailing 

Baca Juga

Ilustrasi Simbolisme yang Terkadang Tidak Manusiawi (www.pinterest.com)
Picture of Depri Ajopan

Depri Ajopan

lahir di Desa Lubuk Gobing, Sumatera Barat, 7 Desember 1989. Lulus program S1 Universitas Negeri Padang Prodi Sastra Indonesia. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional serta di media daring. Ia bergiat sebagai anggota Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau.