Yang Kusebut Rumah

Kenalkan, kucingku bernama Dono.
Entah dari mana nama itu datang. Bukan juga terinspirasi dari siapa-siapa. Waktu dia masih kecil, nama itu saja yang tiba-tiba terlintas di kepalaku. Seolah sudah cocok sejak awal.

Dono bukan kucing yang istimewa. Dia tidak terlalu aktif, tidak juga manja berlebihan. Tapi entah kenapa, dia selalu tahu kapan harus datang.

Aku tidak pernah benar-benar merasakan rumah yang hangat seperti cerita orang-orang. Rumahku tetap ada, tapi suasana di dalamnya tidak pernah benar-benar tenang.

“Ayah selalu begitu!”
“Kalau kamu tidak keras kepala, semuanya tidak akan seperti ini!”

Suara itu sudah terlalu akrab. Kadang aku bahkan tidak perlu melihat, cukup mendengar nada suaranya saja, aku sudah tahu arah pembicaraan itu akan berakhir ke mana.

“Aku capek, Yah…” pernah sekali aku mencoba bicara.
Ayah hanya menarik napas panjang. “Kamu pikir Ayah tidak capek?”

Aku diam. Karena setelah itu, tidak ada lagi ruang untukku.

Dengan Ibu pun tidak jauh berbeda.
“Bu, bisa gak sih… sekali saja, pelan-pelan aja bicaranya?”
Ibu berhenti sebentar, menatapku, lalu berkata, “Kamu belum ngerti apa-apa.”

Mungkin benar. Mungkin aku memang belum mengerti.
Tapi kalau harus terus seperti ini, apakah harus benar-benar mengerti dulu baru boleh merasa lelah?

Aku sering keluar rumah hanya untuk menghindari semua itu. Kadang duduk di taman, melihat anak-anak kecil berlari sambil tertawa.

“Ma, aku mau yang itu!”
“Iya, nanti Mama belikan.”

Sesederhana itu. Tapi entah kenapa, bagiku terasa jauh.

Aku pernah berdiri cukup lama di sana, hanya melihat. Lalu pulang, dan kembali ke rumah yang sama.

Sepi, tapi bukan sepi yang tenang.

Di tengah semua itu, aku mengenal seseorang.

Namanya Mulfi.

“Kamu capek ya?” tanyanya suatu malam.
Aku hanya menjawab singkat, “Lumayan.”
Dia tidak banyak tanya. Hanya bilang, “Kalau capek, cerita. Kalau gak mau cerita, ya gapapa. Aku di sini aja.”

Sederhana.

Aku jadi teringat satu kalimat dari Sapardi Djoko Damono, “aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”

“Menurut kamu, sederhana itu apa?” aku pernah bertanya.
Mulfi tersenyum kecil. “Gak saling bikin tambah berat.”

Aku mengangguk pelan.
Susahmu, ya susahku.
Susahku, ya susahmu.

Kedengarannya sederhana. Tapi ternyata, tidak semua orang bisa melakukannya.

Dan mungkin… itu yang tidak pernah terjadi di rumah.

Suatu malam, aku pulang lebih larut dari biasanya. Suara itu masih ada.

“Kamu gak pernah dengerin aku!”
“Justru kamu yang gak pernah ngerti!”

Aku berhenti di depan pintu. Tidak langsung masuk.

Aku menarik napas pelan, lalu berbisik dalam hati,
“Tuhan… kalau memang ini harus terjadi terus, setidaknya jangan bikin aku ikut hancur di dalamnya.”

Aku tidak tahu itu doa atau keluhan.

Aku masuk. Tidak ada yang menyadari aku pulang.

Aku duduk di sudut, diam.

Lalu terdengar langkah kecil.

Dono.

Dia datang, seperti biasa. Berhenti di depanku, lalu menatap.

“Heh…” aku berbisik pelan. “Kamu ngerti ya?”

Tentu saja dia tidak menjawab.
Tapi dia mendekat, menggesekkan tubuhnya ke kakiku.

Aku tersenyum sedikit. “Katanya kalau kucing datang, aura jelek bisa hilang. Kamu lagi kerja, ya?”

Dono hanya diam. Tapi anehnya, cukup.

Aku mengelus kepalanya pelan. Untuk beberapa saat, suara di dalam rumah seperti menjauh.

Tidak benar-benar hilang.
Tapi tidak lagi terasa menusuk.

Tidak ada yang berubah dari rumah ini.

Ayah tetap Ayah dengan caranya.
Ibu tetap Ibu dengan caranya.
Dan aku… masih di tengah-tengah semuanya.

Tapi setidaknya, sekarang aku tahu—tidak semua hal harus utuh untuk bisa bertahan.

Aku punya Dono.
Aku punya Mulfi.
Dan aku punya cara kecil untuk tetap waras di tengah semua ini.

Mungkin aku tidak bisa memperbaiki rumah ini.

Tapi pelan-pelan, aku belajar…
bahwa pulang tidak selalu tentang tempat.

“Mul, kalau suatu hari nanti…”
“Iya?”
“Aku pengen punya rumah yang gak kayak gini.”
Mulfi diam sebentar, lalu menjawab,

“Kamu tidak memikirkan hal itu sendiri, ada aku. Rumahmu memang seperti ini, namun tidak jika kamu berteduh di rumahku. Jangan sampai anakmu kelak merasakan peran ayah dan ibu seperti apa yang kamu rasakan. Semangat, aku gak mau kehilangan kamu hanya karena masalah begini.”

Aku tersenyum, air mata tak kuasa kutahan.

Baca Juga

Ilustrasi Puisi Museum Trauma (www.pinterest.com)
DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777