Gigs – Cerpen Karya Heri Haliling

Ilustrasi Gigs (www.pinterest.com)
Ilustrasi Gigs

Pria di depanku ini beda. Senyumnya yang ku yakin jebakan itu mengundang keheranan.  Sejatinya malam ini semua koloninya telah kami cekal. Namun sekali lagi, senyum menjijikkan itu pada dasarnya ia sematkan sebagai suatu ejekan.

“Ceritakan peranmu di perkumpulan laknat itu!” perintahku sebal tertahan-tahan.

Nyala lampu berombak sebab embusan udara dari ventilasi ruang. Pria ini mulai mengetuki meja. Ada irama turun naik yang ia stabilkan. Dan itu mudah saja. Selanjutnya, dengan rapi ia memulai:

“Saya Gigs! Bercinta merupakan bantal keseharian.  Anda bisa lihat,” hewan melata ini membentangkan tangan dan dongak dagu. Pendar lampu memulas hidung dan bibirnya yang bersulam. Juga dada dan perut roti sobek yang ia jumawakan. “Jika Gigs lewat, bahkan purnama pun menyapu senyumnya dengan awan. Namun tidak dengan matanya yang binal. Mata yang tiada puas menuntut birahi pejantan!”

Plak!!

“Homo! Tak perlu kau lagak gigolo!” tudingku sambil menamparnya.

Gigs terdorong menyamping. Dan usai ia tata duduk, sudut bibirnya yang berdarah itu tak ayal buatku puas.

“Aku ingin dengar kejujuran. Bukan bualan! Apa peranmu!”

“Kekalahan buat Anda hilang arah,” sindirnya jelas dengan berani. Alis tebalnya terangkat, “Anggap saja saya bagian dari mereka. Itu mau Anda, bukan?”

“Pikirmu?” sangkalku.

Gigs menyandarkan punggung.

“Telah saya lalui segala rupa kotoran perempuan. Bosan.. Namun bukan berarti tak menjamahnya lagi. Saya bukan Olenka dalam cerita Budi Darma. Saya bukan bangkong Handarbeni imaji Ahmad Tohari. Uang bicara, saya ada di sana.”

“Kau akan kami jerat dengan pasal penyimpangan!” ancamku.

Gigs menoleh ke arah pintu. Tiada kecemasam menyarang dari gretakanku tadi. Memang harus ku akui pria ini mendekati sempurna. Postur bidang Asia, bahkan mata tajamnya kukira dia keturunan Arab pula. Bedebah memang! Dia pemikat! Tapi perilaku menyimpangnya itu benar-benar perusak. Empat puluh dua dengan pria sialan ini, memadu sesama jenis di sebuah villa. Aku tercenung. Anugerah lengkap dan ia luapkan dengan penyimpangan. Tak waras!

Tok! Tok! Tok!

“Izin melapor, Komandan!” seru satu petugas setelah mengetuk pintu. Aku berikan izin. Dia segera masuk. Berbisik kepadaku.

Brakk!!!

Aku yang mendengar isi laporan tersebut tanpa kontrol menghantam meja. Petugas panik! Tidak dengan Gigs yang malah tertawa.

“Diam kau!”

“Anda bisa apa?” tantangnya. “Majikanku bermain kata. Anda tak bisa ikat orang sebanyak ini. Kecuali agama, dasar Anda lemah Komandan. Sudahlah, carilah tangkapan lain. Negeri ini lambat laun akan legalkan itu. Jangan buang waktu kami, segera buka borgol saya!” tandasnya dengan kepercayaan diri.

Gigiku bergemeretak. Laporan yang dibisikkan tadi memang adalah perintah dari atasan untuk pembebasan.

Kemudian gemerincing besi borgol dilepas anak buahku. Menyusul secara menjijikkan, gerombolan laknat yang lain mulai keluar dari bilik jeruji bagai muntahan sampah.

“Selamat beristirahat, Komandan. Kerja yang melelahkan malam ini, bukan?” godanya sebelum pintu ditutup. Aku diam, memendam segala amarah dan kehancuran harga diri.

 

*

Jam menukik ke arah 2 dini hari. Usai semua laporan selesai dan kekalahan itu tercatat rapi dalam arsip, aku pulang. Udara memuai kabut. Dinginnya merayapi bahkan sampai ke dalam mobil, menusuk sum-sum meski ac telah lama ku matikan. Aku merenung. Mungkinkah para penyuka sesama terong itu adalah pembayar pajak terbesar? Apa iya kontribusinya begitu penting di negeriku ini. Ku pukul kemudi! Senyum Gigs begitu menyebalkan. Dia atau aku sekarang yang telanjang?

Sampai di rumah kudapati Hilma, istriku tertidur lelap di sofa ruang keluarga. Kelelahan menunggu. Sehelai selimut kutarik untuk menutupi tubuhnya. Di meja kaca, ponselnya menyala redup kehabisan daya. Aku ambil untuk mematikan.

Dan hei..?? Aku terpekur. Sebuah notifikasi dari aplikasi percakapan berikon hijau menyala.

“Malam yang sempurna. Tubuhmu masih terasa,” pesan Hilma kepada seorang yang…Oh?? Tuhan! Binasalah binatang keparat itu! Aku usap ke bawah. Pesan berjejal mesra. Sialan! Tak tahan, ku banting hp tanpa keraguan! Hilma tersentak. Terbangun sambil membenari dasternya yang tipis semerawut.

“Mas ini bukan yang kau pikirkan,” elaknya.

Aku murka. Aku yang mencukupinya hingga kini. Bagaimana mungkin istriku malah berkhianat.

Hilma menepis dengan semua cara: pengelakan, tangisan, ampunan, bahkan mengemis! Aku tak gubris. Dan lama-lama keberanian muncul juga dari mulutnya.

“Bulan menunggumu setiap malam tiada mungkin tahan kedinginan! Kejar lencana dan validasi itu. Kau ubah bukan yang dulu!” hardiknya.

Plakk!!

Tamparanku menjungkalkan dirinya. Bukan merendah, Hilma meloncat untuk menjambak. Ku lepas cengkraman itu. Dan sebuah tendangan menyarang ke sela antar selangkanganku. Aku mundur mengejan.

“Istri tak tahu diri!” ucapku dengan erang bercampur muak yang menumpuk-tumpuk. Dia tertawa dan kembali menggila. Berusaha menerkam, tapi cekikanku mendarat ke lehernya lebih dulu.

Ku tatap matanya. Hewan memang! Cahaya setia itu telah sirna. Gigs menyinggasanainya. Merasakan kecemburuan itu, dengan mata menyala Hilma bilang:

“Dan aku lebih merasa dipermaisurikan dalam setiap belitan otot tubuhnya!”

Sungguh udara dalam ruangan berpendingin ini memuai panas. Memuai dalam keringatku yang banjir bersama lunturnya harga diri.

“Perempuan sundal!”

Dooaar!!!

Silap. Dadaku turun naik dengan pikiran sengkarutan. Seonggok tubuh yang berangsur dingin tergeletak di lantai. Pada pantulan cermin, wajahku yang basah merah akhirnya serupa jelmaan setan.

_Selesai_

 

Baca Juga: Langkah yang Tertinggal di Hujan – Cerpen Firma Rahma

Baca Juga

Ilustrasi Simbolisme yang Terkadang Tidak Manusiawi (www.pinterest.com)
Ilustrasi Puisi (Mengingat) Indonesia (www.pinterest.com)
Picture of Heri Haliling

Heri Haliling

Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Dia seorang guru di SMAN 2 Jorong. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif menulis. Beberapa karyanya meliputi novel, novelet, dan kumpulan cerpen telah terbit baik di media/majalah cetak atau online. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun IG @heri_haliling
DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777