Tanpa judul
Melihat taburan kepedulian di atas instansi kematian hanyalah suatu hal lazim bagi. imajinatif malaikat. Berseberangan di bawah rak sepatu TPU, seseorang mengeming:
“Wajah-wajah ayat sekarang terdengar lirih & suaka iblis elektronik menghantui kenalan sukma semasa kecil dulu & memasak tumisan senyum bayangan lalu.”
Wajah itu menatap sentimen, napasnya menguras udara. Ia memakan dinamo kipas TPU; ia merasa bahwa isi dari kabel kipas itu menyobek tenggorokannya.
Keluarlah ribuan pesan dari luka-luka & terus menganga & bertebangan pesan-pesan dari kantor pos kayangan. Ku tangkap satu surat itu. Di balik amplop ada tulisan:
“Cara membacanya, bakarlah.”
Ternyata isi dari surat itu adalah puisi
yang sedang kutulis Ini.
Batu Balian, 18 Februari 2026
Pesta rakyat di ujung pipa sinus
\I\
Segelas teh hangat melongsor di pipa sinus; hantaman miras melayukan bulu-bulu sekujur kaku. Teman-temani pecel lele menghidupkan kumus-kumis ini. Enak sekali wanginya, walaupun belum makan di sampingnya.
\II\
Nada-nada, berlapis-lapis, dimakan-dimakan… kenyang uang, uang, uang berhambur sambil menggigit bibir. “Seksi sekali,” ucap tante cantik bermata belok. Nampaknya, aku cukup tua.
\III\
Ha ha ha ha ha ha!
“Halu saja dirimu ini, tunggu anakmu saja,” ucap mata-mata merah yang haus akan miras sembilan puluh persen.
\IIII\
Langkah demi langkah, kami pulang. Kebersamaan doa pulang; pesta rakyat.
Batu Balian, 23 Januari 2026
Sejadah Mata Mengikis Mata Hati
Ketika sujud…
Hal membesuk meintip gorden
dan beberapa pigora Mulia
Hentakan kaki grusak grusuk berisik
Menyirami gendang telinga
Kali ini…
ingin sekali ku akhiri keanyiran ini
Songkok hitam kembali bercerita
ia mengulang segala hal busuk itu
Aku mengira tidak jadi Apa-Apa
tapi ternyata
Semesta Tau
Kapan keikhlasan itu tumbuh.
Batu Balian, 22 Januari 2026
