Senja di Kota Pabrik – Cerpen Karya Jeje Zaenudin

Ilustrasi Senja di Kota Pabrik (www.pinterest.com)
Senja di Kota Pabrik

Namaku Zaen. Setiap sore, sebelum langit menutup mata, aku selalu melintasi jalanan berdebu di antara deretan pabrik yang berasap malas. Suara mesin menjadi musik yang menandai pergantian waktu—antara dunia kerja dan dunia kuliah. Kami, para mahasiswa sore, hidup di antara dua dunia: yang satu menuntut tenaga, yang satu menuntut pikiran. Kadang, keduanya menuntut perasaan.

Di kelas hukum yang kami duduki, aku pertama kali melihat dia—perempuan berparas sipit seperti mataku, tapi kulitnya bersih, seputih adonan pempek yang katanya sering ia buat untuk ibunya di rumah. Ia duduk di bangku dua baris depan, memakai hijab rapi, dengan wajah tenang seperti sore yang tak pernah tergesa. Namanya Ayla.

Semenjak itu, setiap jam perkuliahan berubah menjadi semacam perayaan sunyi dalam diriku. Aku mulai menunggu tiap kalimat yang keluar dari bibirnya seperti menunggu vonis yang kuharap menguntungkan. Bila dosen bertanya, dan Ayla menjawab dengan suara lembut namun tegas, entah kenapa aku merasa seperti mendengar hukum berbicara dengan wajah yang paling manusiawi.

Kami berdua sama-sama pekerja. Kadang, selepas kuliah, kami menepi di warung kopi pinggir sawah—tempat para buruh menukar letih dengan tawa.

“Capek nggak kerja terus kuliah?” tanyanya suatu kali, sambil meniup kopi yang masih mengepul.

“Capek,” jawabku singkat. “Tapi kalau kamu di kelas, capeknya agak berkurang.”

Ia tertawa. Suaranya lembut, tapi cukup untuk menumbuhkan sesuatu di dadaku yang bahkan pabrik pun tak bisa membakar habis.

Lalu waktu berjalan seperti mesin yang tak pernah istirahat.

Kami semakin dekat, tapi hanya sebatas sahabat. Aku sering menemaninya mengerjakan tugas, atau sekadar mendengarkan ceritanya tentang kampung halamannya di pinggir sungai besar di selatan sana. Di antara cerita-cerita itu, aku selalu menahan diri agar tak terlalu berharap—tapi harapan selalu lebih keras kepala dari logika.

Sampai suatu malam, di depan kampus, saat lampu-lampu jalan tampak seperti bintang yang jatuh ke bumi, Ayla menatapku dan berkata pelan,

“Zaen, aku mau jujur. Aku udah punya seseorang.”

Dunia tak langsung runtuh, tapi seakan berhenti sejenak. Suara motor yang melintas terdengar jauh, dan angin yang biasa terasa hangat kini menggigit seperti kehilangan arah. Aku tersenyum, mencoba tegar, tapi dalam dada rasanya seperti ada undang-undang yang dihapus tanpa musyawarah.

“Semoga dia bisa bahagiain kamu,” kataku akhirnya.

Ia menatapku lama, lalu mengangguk. “Kamu sahabat terbaik, Zaen.”

Sejak itu, aku tak lagi menemaninya seintens dulu. Namun setiap kali melewati koridor fakultas, aku masih bisa mencium samar aroma parfumnya, seperti pasal-pasal kenangan yang belum sempat dibacakan. Kadang, ketika aku duduk di bawah langit senja setelah pulang kerja, aku berpikir: barangkali memang belum waktunya aku menjadi lelaki dalam kisahnya.

 

Tapi siapa tahu, waktu punya pasal rahasia yang belum dibuka.

Aku masih menunggu—bukan dengan gelisah, melainkan dengan kesabaran seorang buruh yang percaya, bahwa hasil kerja akan tiba pada gilirannya. Bila kelak ia sendiri lagi, mungkin aku akan datang bukan sebagai sahabat, tapi sebagai lelaki yang siap menanggung jawab, bukan hanya rasa.

Di kota ini, tempat asap pabrik bercampur dengan aroma tanah basah, aku terus belajar: bahwa mencintai kadang bukan tentang memiliki, melainkan tentang menunggu dengan cara yang paling tenang.

Sebab harapan, sebagaimana hukum, selalu mencari keadilan pada waktunya sendiri.

 

Baca Juga: Penggali Kubur – Cerpen Karya Depri Ajopan

Baca Juga

Picture of Jeje Zaenudin

Jeje Zaenudin

Mahasiswa hukum dan penulis lepas, juga aktivis romansa. dapat dijumpai di Instagram: @jeje_zaenudin2