Membaca sebuah esai sambat di Nyangkem soal seorang yang merasa tak beroleh validasi lingkungan—lantaran kawannya sensitif—dari sikap kritisnya di kampus, sebuah pertanyaan segera saja meletup di kepala, “Apakah si penulis juga lagi sama kritisnya saat menulis esai refleksi ini? Atau, apakah sikap kritis itu hanya menikam tajam keluar, tapi tumpul dan bahkan melembut gemulai saat kedalam?” Tentu, sang penulis sendiri yang berhak dan layak untuk menjawab. Hanya saja, siapapun juga sah-sah saja untuk menduga apa jawabannya. Pun, sah juga untuk mengkritisi balik sikap kritisnya yang ia kagumi itu.
Perkara yang sebetulnya lebih pelik dan layak mendapat pembedahan adalah soal esensi kritik itu sendiri. Tanpa harus mengutip coretan-coretan pemikir Barat demi beroleh validasi akademik intelektuil, kiranya pembaca sama-sama tahu bahwa masyarakat kita tidak tumbuh dari embrio kritik. Alhasil, seperti sering mengejawantah dalam keseharian, kritik lebih serupa alergi yang mesti dihindari. Pernyataan barusan punya pelbagai dalil fenomenologis. Misalnya saja dengan keluarnya kalimat “Pokoknya ada!”—yang lebih kedengaran seperti “Pekoknya ada!”—dari mulut seorang pejabat saat ditanya wartawan soal anggaran sebuah program.
Pejabat itu, tanpa kita harus menyebut nama Teddy-nya, adalah cermin dari masyarakat yang antipati terhadap kritik. Pejabat itu juga dulunya pernah merasakan bangku sekolah—atau malahan tidak?, sehingga sikapnya yang anti kritik saat ini bukanlah sesuatu yang tiba mak bedunduk. Setidak-tidaknya, jika ogah disebut antipati, maka kita sebut saja sikap itu sebagai keengganan terhadap obat atau jamu. Orang-orang besar yang biasanya bersikap sok menerima kritik biasanya akan mengujar begitu, “Kritik itu obat. Vitamin. Meski pahit, tapi menyehatkan.” Mendengar ujaran demikian, kita semua bisa bersegera menjawab “Prettt!”. Atau, bisa juga dengan memakai saran Pierre Bourdieu dalam salah satu esainya soal masalah-masalah sosiologi: Cukup dengarkan, tapi jangan percaya!
Bung penulis dan siapapun! Meski tengah pesakitan, negeri kita dan juga mahasiswa-mahasiswa kampus sekarang ini tak lagi butuh kritik model apapun. Ibu pertiwi kita saat ini lebih keranjingan dengan program-program edan—atau pekok—bernilai triliunan atas nama investasi jangka panjang. Sementara, mahasiswa kita in this economy lebih ingin mengenyangkan perut ketimbang mengisi kelaparan akal. Kepada negara, terlampau tajam kita melempar kritik, guyuran air keras bakal membakar wajah. Membikin diksi seruan solidaritas aksi bisa saja berganjarkan pidana bui. Tentu, kita semua punya banyak contoh yang bisa disebut sejak Agustus 2025 lalu hingga detik di arloji saat ini. Jadi, tak perlu begitu risau jika kritik hanya berbalas alienasi akademik atau bahkan sekadar vonis “sok aktif”.
Lagi pula, tatkala kritik itu kian tajam merobek pertahanan target, menjadi wajib pula bagi sang pemilik kritik untuk mengarahkan pisau kritiknya ke ulu hati epistemologisnya. Jikalau kritik itu hanya tajam saat menyerang tapi tumpul kala berhadapan dengan diri sendiri, maka itu tak lebih dari sekadar rengekan anak kecil yang merajuk cari perhatian. Ingatlah, bahwa Nietzsche yang cuma punya kawan tunggal berujud kesepian itu pernah mengimbau, “Bentuk kebutaan yang paling berbahaya adalah meyakini bahwa sudut pandangmu adalah realitas tunggal.” Alhasil, setiap kritik sejujurnya tak pernah sebenar-benarnya benar, sehingga menjijikkan saja jika menggunakannya sebagai satu-satunya saka bangunan kesejatian.
Kritikus tak boleh cengeng! Sungguh eman-eman saja jikalau kritik yang tajam selalu digandengtangankan dengan rasan-rasan yang kadang tak sempat kita kritisi itu. Seyogyanya seorang kritikus tahan banting. Menjadi kontradiktif saja andaikan seorang kritikus kok maunya divalidasi, punya banyak penggemar, juga disukai banyak orang!, Bukankah sedari awal kritik tiba karena ada yang tidak beres dengan fenomena jamak? Jadi mustahil jika objek yang dikritik membalas kritikan dengan senyum sumringah, lha wong mereka kita anggap salah! Siapa ta dari kita ini yang mau dengan hati lembut mau disalah-salahkan? Orang gila saja ogah, begitu juga pemerintah, sejawat sendiri apalagi! So, sudahilah drama dan bersetialah di atas jalan lurus kritik bernas!
