Begini Jadinya Kalau Bocah Lulusan SMA Dikasih Senjata 

Aparat melindas polisi ilustrasi (instagram.com/mentahanvideoig)
Aparat melindas polisi ilustrasi (instagram.com/mentahanvideoig)

Berita aparat Brimob yang melindas ojol pakai kendaraan taktis, rasanya seperti melihat bocah SMA main mobil-mobilan. Rakyat geram luar biasa. Ini menambah carut marut kebencian pada aparat, atau apapunlah sebutannya.

Peristiwa demo 28 Agustus 2025 kemarin bener-bener jadi luka yang sangat dalam bagi demokrasi Indonesia. Bagaimana tidak? Rakyat yang harusnya dilindungi, malah dibunuh sama mereka yang “katanya” melindungi dan mengayomi (baca: aparat polisi).

Aparat minimal harus S1 kalau mau pegang senjata!

Hari ini harus ditulis dengan lantang, aparat yang “akan” pegang senjata harus berpendidikan minimal S1. Sekali lagi, syarat untuk daftar polisi atau tentara harusnya minimal S1. Bukan soal gelar atau ijazah, minimal matang secara mental dan emosional. Loh kan syarat daftar polisi ada psikotes? Yakin itu berguna? Apa gunanya lolos psikotes tapi kelakuannya psikopat. Coba ingat-ingat, sudah berapa kali aparat berulah lebih setan daripada setan. Ketik saja, polisi membunuh, polisi menembak, polisi melindas, polisi menyemprotkan gas air mata, polisi me- yang lain-lain. 

Bocah lulusan SMA, asal tinggi badan berat badan sesuai, lolos polisi. Badan proporsional, tapi mental dan emosionalnya tidak. Bayangkan saja: bocah-bocah yang hanya menempuh pendidikan dalam hitungan bulan, tiba-tiba jadi polisi. Tiba-tiba dipegangi senjata. Dipegangi mobil tank. Bahkan kita sipil tidak tahu, ketika mereka dikasih peralatan seperti itu, mereka dikasih ilmunya dulu apa tidak? Mereka harusnya tahu, dong, senjata itu terbuat dari apa, apa efeknya kalau kena tubuh manusia. Gas air mata, mereka taukah gas air mata itu mengandung apa? Dengan pedenya disemprotkan di ruang yang penuh sesak oleh manusia. Ini akalnya di mana, sih?

Rasanya polisi juga harus belajar anatomi manusia lagi. Siapa tau dulu pas SMA pelajaran biologinya tidak masuk ke otak. Ini manusia, bukan avatar yang punya seribu kekuatan. Tubuh manusia kesandung batu saja bisa luka. Lantas, kendaraan yang besar-besar itu, yang ditumpangi dengan penuh kesombongan di jalan, dilawankan ke tubuh manusia? Ini jelas-jelas tidak berakal.

Aparat membunuh rakyat dengan uang rakyat!

Rakyat bayar pajak, ojek online yang sedang cari orderan itu juga dipotong pajak. Pajak aplikasi larinya ke mana kalau bukan ke pemerintah? Oleh pemerintah digelontorkan dananya ke polisi triliunan jumlahnya untuk beli senjata dan mobil-mobilan. Lalu mobilnya dipakai dengan sengaja untuk melindas tubuh rakyatnya? 

Kendaraan dan senjata yang dipasrahkan ke polisi tujuannya bukan untuk bunuh-membunuh. Kalau masih ingat pelajaran PPKN, tentara tugasnya pertahanan, sedangkan polisi keamanan. Diturunkan untuk mengawasi dan menertibkan demo. Rakyat diminta jangan anarkis, sampai harus dikawal polisi. Memangnya rakyat bawa apa mau anarkis? Rakyat cuma bisa lempar botol, paling banter lempar batu. Tidak ada ceritanya rakyat demo berbekal senjata dan gas air mata. Justru yang anarkis adalah mereka yang hanya diminta untuk menjaga rakyat!

Polri untuk (membunuh) Masyarakat

Ini tidak hanya soal nir-akal, tapi juga nir-empati. Kalau toh polisi-polisi itu daya kritisnya kurang, isinya hanya manut perintah atasan, masih ada kadar empati yang bisa dipakai, itupun kalau masih tersedia. Akal sudah tidak punya, empati juga tidak, hanya punya seragam yang dibanggakan itu, kan? Buat menggaet gadis-gadis muda yang terkesima dengan seragam dan pangkat untuk diposting di Ig story. Prihatin pada para orangtua yang jual tanah atau sawahnya ratusan juta, hanya untuk mendanai seorang bocah dungu daftar polisi. 

Belakangan ini kantor polisi di mana-mana cetak banner yang tulisannya “Polri untuk Masyarakat”. Ternyata ada yang kurang di kalimat itu. Kalimat lengkapnya adalah: “Polri untuk (membunuh) masyarakat”. Kalau boleh, skrinsut ini. Lalu, sampaikan kepada Tuhan kalian.

“Ya Tuhan, timpakan kehancuran sehancur-hancurnya kepada para penguasa yang zolim terhadap rakyat. Jangan diambil dulu, biar rasakan dulu kehancuran di dunia. Enak saja kalau langsung mati.”

Penulis: Arizqa Novi Ramadhani
Editor: Muhammad Ridhoi

BACA JUGA: Saat Kesusastraan Terus Bergejolak dengan Keuangan, Memilih Mutu Atau Uang Saku

Baca Juga

Ilustrasi Puisi Museum Trauma (www.pinterest.com)
Picture of Arizqa Novi Ramadhani

Arizqa Novi Ramadhani

Suka bermain-main dengan bahasa. Dapat dijumpai di @ramadhanirizqaa untuk membaca yang lain.