Masihkah gagasan Seno Gumira Ajidarma relevan di tengah pembatasan konten, ketidaktransparanan algoritma, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI)?
Hampir tiga dekade lalu, Seno Gumira Ajidarma, seorang sastrawan, jurnalis, akademisi, dan budayawan Indonesia ini menerbitkan buku Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (1997). Sebuah judul yang lahir dari kegelisahan terhadap pembungkaman pers pada masa Orde Baru. Ketika fakta sulit diberitakan, sastra menjadi ruang untuk menyampaikan kebenaran yang berusaha disembunyikan.
Hari ini, kita menghadapi persoalan yang berbeda, tetapi memiliki kegelisahan serupa. Kebebasan berbicara tidak hanya berhadapan dengan sensor negara, tetapi juga sistem digital yang menentukan informasi mana yang dapat menjangkau publik. Lantas pertanyaanya, saat algoritma membungkam, haruskah sastra kembali bicara?
Suara yang Tenggelam di Balik Algoritma
Pada Oktober 2026, sejumlah pengguna media sosial mengeluhkan penurunan jangkauan konten yang membahas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Kasus kebakaran hutan yang tak kunjung usai sejak awal tahun dan terus mengalami peningkatan signifikan. Salah satunya datang dari kreator konten Tasya Farasya dengan 7,3 juta pengikut di Instagram. Ia mengaku jumlah penonton Instagram Stories-nya yang biasanya mencapai sekitar satu juta turun menjadi 85 ribu setelah mengunggah informasi mengenai karhutla.
Kasus lain dialami Bupati Siak, Afni Zulkifli. Video kegiatan penanaman pohon di lokasi bekas karhutla yang telah ditonton sekitar lima juta kali sempat dihapus TikTok karena dianggap melanggar pedoman komunitas. Video tersebut kemudian kembali setelah pihaknya mengajukan banding.
Fenomena ini kemudian memunculkan dugaan shadowban, yakni pembatasan visibilitas konten yang membuat unggahan tetap tersedia, tetapi distribusinya diduga dikurangi tanpa pemberitahuan yang jelas. Situasi semakin memanas setelah Meta AI di Threads memberikan jawaban bahwa sebagian pemblokiran terjadi karena Meta mematuhi permintaan hukum dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Namun, jawaban AI tersebut tidak dapat dijadikan bukti adanya instruksi pemerintah terkait pembatasan konten karhutla. Kemudian, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, pada 21 Oktober 2026 membantah pemerintah meminta platform menghapus atau membatasi informasi karhutla. Ia justru mendorong transparansi algoritma dan mekanisme moderasi platform digital.
Terlepas dari siapa yang bertanggung jawab atas pembatasan tersebut, lantas bagaimana jika informasi yang menyangkut kepentingan publik justru sudah kehilangan ruang untuk menjangkau masyarakat? Pembungkaman hari ini tidak selalu membuat seseorang kehilangan hak untuk berbicara. Terkadang, ia masih boleh mengunggah sesuatu, tetapi kehilangan kesempatan untuk didengar.
Ketika Sastra Harus Menemukan Jalan
Dalam bukunya, Seno menuliskan, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran” (hlm. 84). Ia juga menyampaikan, “Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di muka bumi.”
Pemikiran tersebut berkaitan dengan proses kreatif Seno dalam menulis kumpulan cerpen Saksi Mata. Pada halaman 86, ia menjelaskan bahwa cerpen merupakan usaha sublimasi dari persoalan-persoalan konkret. Artinya, kenyataan dapat diolah melalui imajinasi dan proses artistik tanpa kehilangan kegelisahan yang melatarbelakanginya.
Jika dahulu sastra menjadi ruang untuk menyuarakan pengalaman yang sulit diberitakan, hari ini ia juga perlu menghadapi persoalan distribusi. Karya boleh selesai ditulis, tetapi bagaimana jika ia tenggelam di antara jutaan konten atau kehilangan jangkauan akibat mekanisme platform?
Barangkali, sastra perlu memperluas ruang kehadirannya. Sebuah cerpen tidak harus berhenti sebagai teks. Gagasannya dapat dialihwahanakan menjadi film pendek, teater, pembacaan puisi, atau pertunjukan. Bukan untuk menggantikan sastra, melainkan memperluas kemungkinan agar gagasannya menemukan lebih banyak pendengar.
Seno juga pernah menyampaikan bahwa dalam dunia kesenian, karya yang baik semestinya mampu menjelaskan dirinya sendiri tanpa harus terus-menerus diterangkan pembuatnya. Sementara itu, algoritma media sosial justru menuntut karya dikemas agar menarik perhatian: judul harus clickbait, durasinya harus diperhitungkan, dan pesan perlu disesuaikan dengan kebiasaan audience.
Di sinilah batas antara adaptasi medium dan kompromi artistik menjadi penting. Jangan sampai penulis justru kehilangan kebebasan berkarya karena terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan selera algoritma.
Sastra Tidak Harus Viral untuk Tetap Bersuara
Perkembangan kecerdasan buatan semakin memperumit persoalan. Informasi kini dapat diproduksi dalam jumlah besar, tetapi tidak semuanya dapat dipercaya. Bahkan, jawaban AI yang terdengar meyakinkan pun kadang bisa sembarangan, sebagaimana terlihat dalam polemik Meta AI terkait konten karhutla.
Di tengah situasi itu, kita membutuhkan jurnalisme yang tetap berpijak pada verifikasi dan sisi sastra yang mampu menjaga pengalaman manusia agar tidak hilang dari ingatan kolektif.
Sastra tidak harus berpindah medium hanya karena takut dibungkam dan tidak masuk algoritma. Sastra juga tidak harus viral untuk membuktikan bahwa suaranya berarti. Yang diperlukan adalah memperluas ruang publikasi dan distribusi, sekaligus menjaga kebebasan artistik agar karya tidak sepenuhnya tunduk pada logika platform. Seperti Laut Bercerita karyanya Leila S. Chudori mungkin, atau menurutmu ada yang lain?
Sudah hampir tiga dekade setelah Seno menyampaikan kegelisahannya, pertanyaan tentang kebebasan bersuara ternyata masih relevan. Bedanya, hari ini kita tidak hanya perlu mempertanyakan siapa yang berhak berbicara, tetapi juga siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan suara mana yang sampai kepada publik. Sebab, ketika algoritma dapat menentukan apa yang terlihat dan apa yang tenggelam, sastra perlu terus menemukan jalannya. Bukan semata-mata agar karya mendapatkan perhatian, melainkan agar kebenaran tidak kehilangan ruang untuk diceritakan.
Jika dahulu jurnalisme dibungkam dan sastra harus bicara, ketika algoritma membungkam, siapa yang akan memastikan kebenaran tetap terdengar? dan dimana ruang suara itu harus digaungkan?




