Menghadapi “Piring Terbang”: Kisah Orang Batak yang Culture Shock di Pernikahan Solo Raya

sumber: tempo.co

Bagi saya yang merupakan orang suku Batak, sebuah pesta pernikahan–atau yang biasanya disebut Ulaon Unjuk–adalah panggung pembuktian kehormatan, kekerabatan, dan… volume makanan.

Prinsip saya dalam urusan konsumsi pesta itu sederhana, yaitu mangan nagodang (makan besar). Makanan harus berlimpah ruah, daging lembu atau babi harus dipotong dalam jumlah yang sangat banyak, sistemnya juga prasmanan bebas tambah, dan juga di akhir acara, wajib hukumnya membawa pulang makanan (parjambaran atau boan-boan) sebagai berkat.

Maka, bayangkanlah apa yang terjadi ketika saya, seorang yang merupakan keturunan suku Batak yang terbiasa dengan riuhnya pesta adat bervolume besar, pertama kali menghadiri undangan pernikahan di daerah Solo Raya.

Bukan hanya kaget, saya mengalami yang disebut culture shock dalam urusan lambung. Saya berhadapan langsung dengan tradisi legendaris yaitu Sistem Pring Terbang.

Baca Juga : Ritus Bintang Jatuh, Cerpen Karya Sifaul Khuluf

Duduk Manis dan Kecepatan Sinoman

Sesaat setelah saya melangkah masuk ke dalam gedung pernikahan di Karanganyar (salah satu wilayah Solo Raya), radar “pemburu makanan” saya langsung kebingungan. Tidak adanya deretan meja prasmanan panjang dengan pemanas makanan di ujung ruangan. Yang ada hanyalah barisan kursi yang disusun rapi menghadap ke pelaminan, mirip seperti suasana seminar atau bioskop.

Begitu saya duduk di kursi, kejutan mulai bermunculan. Tanpa saya perlu berdiri, makanan datang menghampiri saya. Di Solo Raya, para pemuda desa atau pramusaji yang biasa disebut sinoman bergerak dengan koreografi yang luar biasa rapi. Mereka berjalan cepat sambil membawa nampan besar yang penuh akan piring dan membagikannya kepada ratusan tamu dengan ritme yang konstan.

Di sinilah kapasitas lambung Batak saya mulai diuji.

Dari Sup Galantin hingga Es Puter: Ujian Porsi dan Kecepatan

Di pesta Batak, saya bebas menimbun nasi dan lauk di atas piring layaknya membentuk gunung berapi. Di Solo Raya? Semuanya diatur dalam porsi piring personal yang sangat estetik dan presisi. Makanan keluar secara bertahap menggunakan rumus baku yang biasanya disingkat USDEK (Unjukan, Sup, Dhaharan, Es, Kondur).

  1. Unjukan (Minuman) & Snack: Datang di awal sebagai pembuka.
  2. Sup: Biasanya Sup Galantin atau Sup Matahari dalam mangkuk kecil yang hangat.
  3. Dhaharan (Nasi/Makanan Utama): Nasi porsi pas dengan lauk olahan daging (seperti terik daging atau sambal goreng ati) yang rasanya cenderung manis-gurih.
  4. Es: Penutup manis berupa es puter atau es buah.
  5. Kondur (Pulang): Begitu es habis, itu adalah sinyal bahwa acara telah selesai dan tamu dipersilakan pulang.

Bagi perut Batak saya, porsi dhaharan (nasi) yang disajikan terasa sangat “minimalis”. Di suapan ketiga, saya mulai berpikir, “Ini baru pemanasan aja, kan? Habis ini boleh nambah ke meja prasmanan, kan?” Namun kenyataannya tidak ada ronde kedua. Apa yang ada di piringmu, itulah jatahmu.

Tidak hanya soal porsi, kecepatannya pun membuat saya terperangah. Baru saja saya mengunyah sendok terakhir dari nasi, seorang sinoman dengan sigap sudah mengangkat piring kosong saya dan lansung menggantinya dengan semangkuk es. Di Solo Raya, efisiensi waktu adalah kunci. Pesta yang dihadiri ribuan orang bisa selesai dalam waktu kurang dari dua jam saja. Berbeda dengan pesta Batak yang bisa berlangsung dari jam 9 pagi hingga matahari terbenam.

Menggeser Paradigma: Menghargai Harmoni di Balik Piring Terbang

Jujur saja, awalnya saya ada rasa “kurang puas” yang menggelitik lambung dan ego budaya saya. Saya orang Batak terbiasa mengekspresikan kegembiraan dan penghormatan kepada tuan rumah lewat interaksi yang riuh saat mengambil makanan. Namun, setelah saya merenungkan culture shock ini, saya justru menemukan keindahan yang mendalam dari budaya penyajian makanan di Solo Raya. 

Piring Terbang bukanlah representasi perilaku pelit atau membatasi makanan. Piring Terbang adalah simbol penghormatan tertinggi kepada tamu. Tuan rumah tidak ingin tamunya lelah berdiri mengantre panjang di meja prasmanan. Mereka ingin tamu duduk nyaman nyaman seperti raja, dilayani dengan sopan oleh para sinoman, dan menikmati hidangan yang diantarkan langsung ke tangan mereka. Porsi yang pas juga mencerminkan filosofi Jawa tentang kesederhanaan, kebersihan (tidak ada makanan sisa yang terbuang), dan harmoni.

Culture shock ini akhirnya mengajarkan saya satu hal yaitu baik pesta Batak yang riuh dengan porsi melimpah, maupun pesta Solo Raya yang sunyi, anggun, dan taktis dengan Piring Terbang-nya, sama-sama memiliki cara tersendiri untuk memuliakan manusia. Bagi saya yang berdarah Batak, pulang dari pernikahan Solo Raya mungkin membuat saya harus mampir ke warung nasi padang terdekat untuk memenuhi kuota lambung. Namun, hati saya pulang dengan kenyang oleh rasa kagum terhadap indahnya keberagaman budaya Nusantara.

Sekedar Fun Fact, saya paling menyukai hidangan sup matahari. Soal sup ini membuat saya terasa lebih segar dan juga sup ini terasa sangat enak.

Baca juga : Ngeritokrasi Merajalela, Sebab Terlalu Pintar Justru Tak Jadi Apa-Apa

 

Baca Juga

Ilustrasi Pinterest
Picture of Jonathan Sagala

Jonathan Sagala

Mahasiswa Pendidikan Geografi UNS