Bertema (Sebuah) Rumah

Ilustrasi Sebuah Rumah (www.pinterest.com)
Ilustrasi Sebuah Rumah

Kabar datang dari DPR RI turut memicu gegeran selama akhir Agustus 2025. Publik tak terima kaum terhormat di DPR RI mendapat tunjangan rumah dan tunjangan beras berangka besar. Pengumuman itu berimbuhan joget dan omongan. Publik lekas membuat konklusi meski tak melakukan pengusutan pemicu joget dan omongan sekian artis berpredikat terhormat di DPR RI.

Rumah terlalu masalah! Penjelasan-penjelasan disampaikan tokoh-tokoh di DPR RI makin menimbulkan keributan. Polemik membesar di media sosial berlanjut peristiwa-peristiwa di jalan dan tempat-tempat politis. Massa menolak gelontoran uang untuk penghuni gedung parlemen. Kebijakan atas nama tunjangan itu telah menodai demokrasi dan meremehkan nasib jutaan orang di seantero Indonesia.

Kita menduga orang-orang di DPR RI sibuk membaca dokumen-dokumen dinamakan undang-undang atau peraturan. Mereka tak sempat atau tak berselera membaca teks-teks sastra. Kita masih ingat urusan tunjangan rumah membarakan marah. Pemahaman di kalangan DPR dan kita tampak berbeda.

Sebuah Rumah

Kini, kita ingin menikmati suara-suara rumah. Pihak-pihak berseteru di akhir Agustus berhak mendengar suara rumah sebelum gampang membuat konklusi rumah secara politis. Sapardi Djoko Damono (2003) dalam cerita berjudul “Rumah-Rumah” membuat kita insaf hubungan manusia dan rumah. Pengisah bukan manusia tapi rumah.

Gubahan sastra memungkinkan rumah itu “hidup” dan bersuara mengenai nasib. Kita seolah harus mengerti kemauan-kemauan rumah. Kutipan suara rumah: “Seandainya boleh memilih, saya tidak mau menjadi rumah. Orang boleh memilih rumah, tetapi rumah tak berhak memilih penghuninya. Saya berusaha sebaik-baiknya untuk selalu menyayangi keluarga yang menghuni saya, siapa pun orangnya dan apa pun wataknya.” Rumah itu sadar nasib.

Kita sejenak mengingat penggalan-penggalan keterangan tentang rumah dihuni para artis. Pada suatu masa, artis-artis itu menjadi orang terhormat di DPR RI. Mereka menghuni rumah-rumah mewah. Semula, kita bakal kesulitan menjadi tamu atau berkunjung ke rumah mereka.

Kamera mengubah segala. Para artis membuat acara-acara berkunjung ke rumah sesama artis atau tokoh terkenal. Kunjungan membawa kamera-kamera mengakibatkan para penonton mengetahui kondisi rumah para artis. Rekaman-rekaman itu terlihat lagi menjelang gegeran demokrasi dan penjarahan di rumah artis-artis berpredikat anggota DPR RI.

Tontonan rumah lekas dikaitkan pemerolehan tunjangan rumah. Orang-orang menganggap aneh dan absurd. Penghuni rumah mewah mendapat tunjangan rumah? Kita mulai menghadapi dua masalah: rumah artis dan tunjangan rumah. Rekaman-rekaman menjadi pengganti “kehadiran” di rumah berongkos miliaran rupiah. Di situ, ada pelbagai benda menandai kehormatan penghuni.

Pada suatu hari, rumah-rumah itu menjadi “acara” menghebohkan. Ratusan orang berdatangan masuk rumah para artis bertatus anggota DPR RI. Mereka merusak dan menjarah. Kita mengetahui melalui kamera-kamera bergerak dari segala arah. Tontonan mengundang tawa, sedih, bingung, dan marah. Para penghuni rumah telah pergi tapi bisa menonton nasib rumah. Mereka masuk dalam sejarah. Rumah-rumah dijarah bakal dicatat dalam sejarah gegeran demokrasi 2025, berbeda kesan dari gegeran 1998.

Tak Ada di Rumah

Kita kembali ke cerita gubahan Sapardi Djoko Damono. Suara lain dari rumah berbeda: “Saya sebuah rumah seluas 150 meter persegi. Hampir semuanya ditanami bangunan kecuali tiga kali enam meter persegi di depan. Mungkin dimaksudkan sebagai semacam taman kecil nantinya… Saya sama sekali tidak suka dikontrakkan. Soalnya, tidak jelas keluarga macam apa yang akan tinggal. Kalau yang menghuni saya nanti amat brengsek dan tidak suka membaca cerita pendek dan tidak berpengetahuan dan tidak intelek dan suka masak jengkol, apa saya bisa protes dan mengusirnya?”

Rumah tak memiliki kekuasaan dalam menentukan penghuni atau melakukan pengusiran. Kita sedang membaca cerita mengandung kemustahilan tapi memberi petunjuk tentang hubungan manusia dan rumah. Hubungan kadang dipengaruhi oleh adat, politik, bisnis, agama, asmara, dan lain-lain. Sapardi Djoko Damono seperti membujuk pembaca agar rela mendengar segala keluhan dan pengharapan rumah.

Konon, penjarahan di rumah-rumah bukan kontrakan milik para artis dan anggota DPR itu tak ditemukan buku-buku. Para penjarah mengetahui beragam benda mewah. Mereka tak melihat buku. Kita tak harus menuduh para penghuni rumah mewah itu bukan pembaca cerita pendek.

Rumah Berhantu

Kita masih bersama cerita gubahan Sapardi Djoko Damono, tak harus sibuk mengikuti perkembangan rumah-rumah artis dan menteri setelah penjarahan. Ada suara mengandung prihatin: “Percayakah saudara bahwa saya, rumah yang belum jadi ini, ada hantunya? Tetangga saya, rumah yang tidak juga ada pengontraknya itu memang suka bicara… Mungkin saja wujud saya buruk dan sedikit menakutkan. Di pekarangan, banyak ilalang, tidak jarang pula ada yang berbunga. Kadang-kadang ada juga, maaf, ular yang suka menunggu kelengahan katak atau tikus yang tersesat.” Kita diajak merasakan ketakutan. Rumah itu berhantu?

Kita pun terbiasa membuat sebutan kepada rumah-rumah berdasarkan rupa dan kondisi. Rumah merasa difitnah tetangga itu bercerita: “Tetapi sudahlah, saya sebenarnya lebih suka diam. Hanya saja nurani saya terganggu ketika dikatakannya bahwa rumah seperti saya ini dihuni hantu. Itu kelewatan. Anak-anak takut? Bohong. Mereka malah suka masuk pekarangan saya mencari cengkerik, bahkan ada yang main petak umpet.” Rumah kosong tanpa penghuni tetap memiliki cerita. Rumah itu bukan rumah hantu atau rumah horor.

Kini, kita berganti bacaan: dari cerita ke puisi. Joko Pinurbo (2007) menggubah puisi pendek berjudul “Rumah Horor”. Ia tak bermaksud memberi puisi menjadikan pembaca ketakutan dan pingsan. Puisi justru mengandung kelucuan dan kritik.

Dua larik dipersembahkan kepada pembaca: Hii…Aku merinding masuk ke rumahmu./ Semua dindingnya penuh dengan fotomu. Joko Pinurbo tak mencantumkan hantu atau arwah. Ia memang menjebak melalui judul tapi pembaca segera tertawa saat membaca dua larik. Sumber horor itu pameran foto di dinding. Kita mengerti bila dinding memang biasa dijadikan pameran foto penghuni rumah. Di dinding, pajangan foto-foto bertema pernikahan, wisuda, piknik, pekerjaan, dan lain-lain. Foto dalam beragam ukuran memberi kesan biografis penghuni. Sekian foto pasti mengenai kesuksesan, kecantikan, kebahagiaan, kebersamaan, dan kemuliaan.

Belum Selesai

Orang-orang masuk ke rumah para artis dan menteri untuk menonton atau menjarah bisa mengetahui foto-foto penghuni. Di dinding, foto-foto berukuran besar. Orang-orang tak sempat menjadi penonton dalam waktu lama dan memberi pujian. Situasi pelik membat foto-foto sekadar pengesahan rumah mewah dan nasib penghuni. Konon, ada penjarah merusak dan mengambil foto di dinding. Kita tak mungkin menganggap itu rumah horor bila merujuk puisi gubahan Joko Pinurbo.

Sekian hari lalu, berita datang dari DPR RI. Rapat diadakan setelah hari-hari gegeran di Jakarta dan pelbagai kota. Kaum terhormat di DPR RI memutuskan menghentikan tunjangan rumah. Keputusan setelah terjadi kekacauan, sakit, kehilangan, kehancuran, dan kematian. Kita mencatat masalah rumah terlalu menentukan sejarah Indonesia abad XXI.

Kita bakal terus berhadapan dengan masalah-masalah rumah meski sudah membaca cerita pendek dan puisi. Kita tetap berusaha memahami rumah meski sempat direpotkan oleh kebijakan di DPR RI. Masalah-masalah rumah tak bisa dituntaskan oleh sastra. Rumah itu tema biasa ruwet di legislatif dan eksekutif. Kita belum selesai dengan rumah.

Baca Juga

Ilustrasi Puisi (Mengingat) Indonesia (www.pinterest.com)
Picture of Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Pedagang buku bekas, FB Kabut