“Lucu banget, pengen beli” adalah kalimat yang keluar saat muncul video peliharaan lucu di FYP TikTok. Banyak calon pemilik yang mengadopsi hewan peliharaan berpenampilan unik hanya untuk dikoleksi tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan hewan peliharannya. Kucing dengan telinga terlipat, kucing dengan kaki pendek, hingga anjing dengan moncong pesek yang tampak memananjakan mata. Sayangnya, banyak orang tutup mata atas fakta menyedihkan di baliknya.
Ciri fisik yang dianggap menggemaskan itu sebenarnya hasil dari mutasi genetik yang disengaja dan terus dibiakkan demi memenuhi selera pasar, meskipun sering menimbulkan masalah kesehatan berkepanjangan. Fenomena ini menjadi lebih parah ketika semakin tingginya permintaan pasar dipenuhi dengan jalan pembiakan illegal yang berujung dengan banyaknya kematian dan munculnya penyakit akibat lingkungan yang kotor dan kurangnya sanitasi. Pembahasan ini akan dimulai dari seekor anjing.
Ketika Sesak Napas dan Amarah Dianggap Hal Lucu
Anjing tipe hyper brachycephalic ini popular pada ras Bulldog, French Bulldog, dan pug. Anjing-anjing ini seiring berjalannya waktu moncongnya semakin pesek akibat pembiakan selektif yang dilakukan manusia tanpa memikirkan risiko kesehatan seperti sesak napas akibat Struktur yang tidak normal. Struktur tulang dan jaringan lunak yang berkelainan menyebabkan masalah kesehatan. Ciri fisiknya antara lain moncong yang sangat pendek, kepala bulat dan umumnya masif, underbite yang jelas, sinus frontal yang mengecil, nasal turbinates yang membesar, dan jaringan lunak saluran pernapasan atas berlebihan yang membuat aliran udara terhambat akibat bagian belakang langit-langit mulut memanjang terlalu jauh ke tenggorokan dan sebagian menghalangi saluran udara bagian atas. Kelainan ini bisa kita kenali dengan mengamati gejalanya yaitu napas berat, berisik, sesak napas kronis, dan rentan terkena heatstroke ketika beraktivitas, kadar oksigen rendah hingga menyebabkan collapse.

Gambar (a) adalah French Bulldog standar, sedangkan gambar (b) adalah French Bulldog dengan moncong pesek.
Masalah ini dilanjut dengan Brachycephalic Ocular Syndrome (BOS) yang menyebabkan gangguan permukaan mata akibat rongga mata yang dangkal atau shallow orbit, selain itu ada juga exophthalmia yaitu kelopak mata yang terlalu lebar yang meningkatkan risiko mata kering. Masalah kesehatan lainnya adalah masalah gigi berjejal parah dan kesulitan melahirkan karena kepala anjing terlalu besar. Ironi tren ini terus berlanjut, penderitaan yang sama dialami oleh spesies lain, salah satu nya kucing. Kucing-kucing ini disilangkan dengan sengaja untuk membuat kombinasi yang unik demi menyegarkan mata
Selain ciri fisik, perilaku tipe hyper yang berpengaruh buruk juga bisa diwariskan. Karakteristik perilaku diuji melalui alat riset seperti Canine Behavior, C-BARQ, dan wawancara sederhana kepada pemilik peliharaan. Ciri unik seleksi genetik ini sudah ditemukan pada anjing German Shepherd yang mengejar dan agresif ketika membandingkan anjing pekerja dengan anjing peliharaan biasa. Pembiakan anjing pekerja dengan anjing konteks juga secara tidak langsung menyeleksi sifat impulsif pada anjing. Masalah kembali muncul ketika perilaku anjing pekerja akut diadopsi untuk menjadi anjing peliharaan, mereka akan kesusahan beradaptasi ke lingkungan dengan atmosfer yang sangat berbeda.
Kontroversi Kucing Scottish Fold
Kucing Scottish Fold punya ciri fisik yang unik yaitu daun telinga terlipat ke depan dan osteokondrodisplasia pada ekstremitasnya. Membiakkan kucing dengan ras ini sangat kontroversial karena kucing ini menderita eksostosis parah seumur hidup akibat osteokondrodisplasia. Meskipun terapi radiasi bisa meredakan rasa sakit, ini tidak bisa benar-benar menyembuhkannya.
Ditemukan sebuah kasus persilangan kucing Scottish Fold (kucing bertelinga terlipat kedepan) dengan kucing Munchkin (kucing berkaki pendek) yang menghasilkan anak kucing dengan kombinasi “unik” yaitu telinga terlipat kedepan dengan ekstremitas pendek. Kucing hasil persilangan ini awalnya terlihat sehat dan tidak ada tanda-tanda eksostosis (benjolan tulang abnormal) pada umur 5 bulan. Namun selang 7 bulan kemudian menderita eksostosis parah di kaki belakang pada umur 12 bulan (gambar 1D dan 1E). Eksostosis parah terlihat di bawah tumit dan metatarsal, bahkan pangkal jari-jarinya menyatu satu sama lain (Takanosu & Hattori, 2020).
Kasus serupa ditemukan pada persilangan kucing Scottish Fold dengan kucing American Curl (kucing bertelinga terlipat ke belakang). Persilangan ini menghasilkan anak kucing berumur 13 bulan yang menderita osteokondrodisplasia, kondisi kelainan pada pertumbuhan tulang rawan yang menyebabkan tulang tumbuh secara abnormal dan memicu radang sendi serta rasa sakit hebat. Hasil radiografi (gambar 2D dan 2E) memperlihatkan kondisi eksostosis parah pada ekstremitas belakang bagian tumit (tarsal) yang disertai ujung tulang jari yang berbentuk tidak normal (Takanosu & Hattori, 2020).
![]() |
![]() |
| (Gambar 1) Hasil persilangan Scottish Fold dengan Munchkin. | (Gambar 2) Hasil persilangan Scottish Fold dengan American Curl. |
Segera Hentikan
Dari kacamata seorang dokter hewan, fenomena semacam ini merupakan awal dari berbagai ancaman besar terhadap kesejahteraan hewan yang bisa memengaruhi kesehatan masyarakat dan lingkungan secara luas. Menjaga mutasi genetik dengan praktik pembiakan selektif yang memprioritaskan keindahan fisik tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan dan kesejahteraan hewan peliharaan wajib segera dihentikan baik secara regulatif maupun moral. Sengaja menyilangkan ras-ras hewan peliharaan dengan risiko besar hanya demi keindahan fisik semata sama saja dengan membuat seekor hewan menderita seumur hidupnya secara sengaja. Kondisi ini juga bisa memberatkan sang pemilik untuk menanggung biaya berobat ke dokter hewan ketika peliharannya terkena kelainan kesehatan.
Selain membahayakan hewan liar sekitar, perilaku ini juga bisa membahayakan masyarakat, dari segi keselamatn fisik maupun kesehatan mental. Gigitan dari perilaku agresif bisa saja menyebabkan luka parah sekaligus meningkatkan risiko menularnya rabies. Perilaku ini bisa jadi sangat fatal jika korbannya adalah lansia atau anak-anak yang kurang bisa melindungi diri mereka sendiri. Lebih jauh, situasi ini bisa saja menimbulkan konflik antarwarga yang menyebabkan lingkungan tetangga tidak kondusif dan jauh dari rasa aman, sehingga memicu rasa cemas berlebih.
Fenomena ini diperparah oleh pemilik yang tidak bertanggung jawab terhadap peliharannya. Banyak hewan peliharaan yang kabur atau sengaja ditelantarkan. Akhirnya, hewan-hewan yang lepas ini kawin secara acak dan memperbanyak keturunan dengan hewan liar sehingga genetik cacatnya banyak diturunkan. Hal ini akan berdampak langsung ke lingkungan masyarakat karena membludaknya hewan liar yang sakit atau cacat mengakibatkan banyak dari mereka yang mati dan membusuk, lalu menimbulkan sumber penyakit baru di lingkungan warga yang membahayakan kesehatan masyarakat. Pada akhirnya, membiakkan hewan ras tertentu yang membawa kelainan kesehatan merupakan ancaman besar terhadap keselamatn fisik, kesehatan lingkungan, dan ketertiban sosial masyarakat.
Oleh karena itu, berhenti mengembangbiakkan ras berisiko tinggi adalah bentuk tanggung jawab seorang manusia untuk menjamin hak-hak dasar hewan untuk hidup bebas dari penderitaan yang berlanjut.
Penulis: Rafa Chelsea Ad Diba’i
Editor: Imam Gazi Al Farizi


