Menghayati Pendharmaan Abdi Ndalem Reksa Pustaka 

Pendharmaan, demikian istilah yang kami temui untuk memahami pengabdian dalam lingkungan Mangkunegaran. Dharma agaknya tidak lagi menjadi kata yang akrab bagi generasi muda. Bisa jadi sebab generasi muda sudah lebih dulu memafhumi bentuk-bentuk baru dari ragam aktualisasi diri.  

Sementara dalam potret berbeda, pendharmaan di lingkungan Mangkunegaran masih hidup sebagai laku nyata. Ia berjalan beriringan dengan pasang surut sejarah tata Praja Mangkunegaran. Laku tersebut kemudian kami temui dalam keseharian para abdi ndalem. 

Selama satu bulan terakhir, kami belajar memahami makna pengabdian melalui keseharian para abdi ndalem di Reksa Pustaka. Kawedanan ini menaungi dua Kemantren yakni Reksa Wilapa yang mengelola arsip dan pustaka naskah kuno serta Pustaka Pura sebagai perpustakaan khusus. 

Penempatan di Pustaka Pura mempertemukan kami dengan cerita-cerita kecil tentang kehendak untuk menjaga ilmu pengetahuan dan memastikan warisan kebudayaan mampu selalu bertemu dengan jalan baktinya terhadap masyarakat luas. 

Dari keseharian para abdi ndalem, kami turut mencatat kesaksian perihal hadirnya perpustakaan yang eksis  berdampingan dengan kerja-kerja perawatan pengetahuan; suatu laku yang terus dipastikan berkelanjutan agar mampu meregenerasi kebijaksanaan dari masa lalu. 

Tri Dharma Mangkunegaran dan Refleksinya 

Petang di Mangkunegaran dari Reksa Pustaka

Kepemimpinan Mangkoenagoro X telah membawa angin segar yang memperkenalkan Mangkunegaran kepada khalayak umum. Kebudayaan Jawa diilhami melalui pengenalan-pengenalan yang ramah dan dekat dengan masyarakat luas. 

Kesuksesan semacam ini tentu berkelindan dengan prinsip ajaran filsafat yang diwariskan secara kokoh oleh K.G.P.A.A Mangkoenagoro I dalam gerilyanya. Prinsip landasan tersebut ialah, “Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Hangkrukebi, dan Mulat Sarira Hangrasa Wani”. Maksud dari Tri Dharma ini yaitu agar segenap warga Mangkunegaran selalu dapat memupuk rasa memiliki terhadap Mangkunegara, turut melakukan kerja-kerja perawatan serta penjagaan, dan tak lepas dari sikap mawas diri. Ajaran ini diimplementasi secara sadar oleh segenap abdi ndalem, tidak terkecuali Reksa Pustaka.

Bayun Marsiwi sebagai seorang filolog dan juga pustakawan di Pustaka pura memberi penjelasan lanjutnya, “begitu kita bicara hidup. Mangkunegara IV dalam petikan Serat Wedhatamanya pernah menulis bahwa hidup sekurang-kurangnya memenuhi satu dari tiga hal yaitu wirya, arta, atau winasis. Yang dapat diartikan sebagai kehormatan, kesejahteraan (menjadi kaya), atau ilmu pengetahuan (menjadi pandai). Ilmu pengetahuan yang terakhir ini yang bisa kemudian diadopsikan abdi ndalem di Reksa Pustaka. Kalau tidak memenuhi salah satunya, kata Mangkunegaran IV, hidupnya tidak lebih berharga dari daun jati kering.” 

Ajaran tersebut diterapkan dalam keseharian para abdi ndalem. Bayun Marsiwi menjelaskan bahwa ketika berbicara mengenai kehidupan, Mangkoenagoro IV dalam Serat Wedhatama menyebut setidaknya tiga hal yang perlu dicapai manusia yakni wirya, arta, atau winasis

Wirya berkaitan dengan kehormatan, arta dengan kesejahteraan, sedangkan winasis merujuk pada ilmu pengetahuan atau kepandaian. Nilai terakhir inilah yang menurut Bayun memiliki keterkaitan erat dengan peran para abdi ndalem di Reksa Pustaka.

Ilmu pengetahuan dalam konteks tersebut tidak berhenti pada upaya menjadi pandai. Pengetahuan perlu dipelajari dan diinternalisasikan agar tetap berkelanjutan. Pekerjaan para abdi ndalem di Reksa Pustaka kemudian dapat dilihat sebagai bagian dari proses tersebut. 

Mengelola koleksi, merawat naskah, mengalih-aksarakan naskah, membantu layanan informasi kepada masyarakat luas, melakukan penelusuran, hingga membantu pengguna memperoleh informasi merupakan bentuk kerja yang memungkinkan pengetahuan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari sini, saya mulai melihat bahwa pendharmaan di Reksa Pustaka memiliki hubungan yang erat dengan cara seseorang memandang ilmu pengetahuan. Pengabdian diwujudkan melalui kesediaan untuk bekerja melalui tanggung jawab menjaga pengetahuan yang dipercayakan kepadanya.

Berangkat dari Panggilan Hati 

Hema Mahalini dalam proses preservasi

Internalisasi nilai tersebut kemudian terlihat dalam kerja-kerja perawatan arsip dan naskah kuno. Hema, salah satu filolog di Reksa Pustaka, turut menjelaskan bahwa pengabdian para abdi ndalem banyak berangkat dari dorongan personal untuk menjaga kebudayaan yang berada di lingkungan Mangkunegaran. “Sebagian besar abdi ndalem di sini ya panggilan hati. Karena betul-betul ingin menjaga dan melestarikan kebudayaan di jantung Mangkunegaran sendiri, yaitu Reksa Pustaka dan kemungkinan akan berjalan sampai seumur hidup karena sudah punya prinsip kuat di awal.” 

Pernyataan Hema menampilkan wajah pengabdian di Reksa Pustaka berangkat dari hubungan yang lebih personal antara manusia dan pengetahuan. Ada keterikatan perasaan merasa memiliki sebagai alasan untuk terus menjaganya. Terus hadir dan hidup bersama pustaka-pustaka di dalamnya. 

Dalam perjalanan Darweni, seorang abdi ndalem sejak tahun 1993, keterikatan akan pengetahuan tersebut bahkan telah tumbuh jauh sebelum ia menjadi abdi ndalem. Kecintaannya terhadap aksara Jawa sejak masa kanak-kanak mempertemukannya dengan dunia pernaskahan, hingga kemudian pengetahuan yang semula hadir sebagai ketertarikan menjadi aktualisasi pengabdiannya di Pustaka Pura. 

Saat masih menjadi mahasiswa Sastra Nusantara Universitas Gadjah Mada pada 1992, ia pertama kali berkunjung ke Mangkunegaran. Di Reksa Pustaka, ia melihat koleksi naskah kuno sekaligus kegiatan alih aksara yang memicu ketertarikannya terhadap dunia pernaskahan Jawa. 

“Saya sendiri memang suka aksara Jawa sejak kecil, sejak masih SD. Jadi begitu melihat ada banyak naskah-naskah kuno di Reksa Pustaka, ada kegiatan alih aksara, saya langsung melamar begitu lulus. Di tahun itu masih didominasi orang-orang sudah berumur dan saya juga senang sekali begitu dapat melayani masyarakat, mahasiswa, atau peneliti yang butuh informasi tentang naskah kuno. Saat mereka mau bikin penelitian tentang Mangkunegaran, saya senang melayani pengunjung yang ingin tahu tentang pengetahuan Mangkunegaran,” tutur Darweni.

Bagi Darweni, merawat naskah juga berarti memastikan pengetahuan di dalamnya dapat sampai kepada orang-orang yang membutuhkannya. Mahasiswa, peneliti, dan masyarakat yang datang ke Pustaka Pura menjadi bagian dari proses tersebut. Dari kebutuhan mereka terhadap informasi tentang Mangkunegaran, Darweni turut mengambil peran dalam membuka akses terhadap pengetahuan yang tersimpan dalam koleksi Reksa Pustaka.

Olehnya, keberadaan para abdi ndalem di Reksa Pustaka menunjukkan bahwa keberlanjutan pengetahuan tumbuh dari hidupnya prinsip dharma manusia yang bersedia merawat dan meneruskannya. Melalui pekerjaan sehari-hari, nilai winasis tercermin dalam kegiatan pengelolaan koleksi, perawatan naskah, alih aksara, serta pelayanan kepada masyarakat, mahasiswa, dan peneliti.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap kebudayaan dapat tumbuh menjadi pengabdian. Mangkunegaran sebagai institusi penjaga budaya yang terus semakin terbuka dan dikenal oleh masyarakat luas, tidak terlepas dari kesunyian kerja para abdi ndalem di Reksa Pustaka yang merupakan bagian penting dari perjalanan tersebut. Kebudayaan yang hadir di hadapan publik juga ditopang oleh pekerjaan yang berlangsung jauh dari panggung. 

Baca Juga

Ilustrasi Biram (www.pinterest.com)
DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777