Category: Cerpen

Ilustrasi Cerpen Penggali Kubur (www.pinterest.com)

Penggali Kubur – Cerpen Karya Depri Ajopan

Jenazah itu baru saja dikebumikan. Namus bermenung sendirian di pemakaman itu setelah orang-orang pergi. Airmatanya jatuh ke tanah pekuburan beberapa titik. Sebagai tukang penggali kubur, ia merasa kehilangan sosok kawan sejati yang satu profesi dan saling mengerti dengannya. Ia tahu sendiri akan susah mencari pengganti almarhum Lisman yang cocok diajak

Selengkapnya »
Cerpen Jendela yang Menghadap Barat (www.pinterest.com)

Jendela yang Menghadap Barat – Cerpen Karya Nur Salwa Aryantika

Rumah itu berdiri di ujung gang kecil, sedikit menyendiri dari deretan rumah-rumah lainnya. Beberapa bagian atap terlihat rapuh dan warna dindingnya sudah memudar. Siapapun yang melihat rumah itu pasti akan tahu bahwa rumah itu sudah tua. Dari luar, rumah itu terlihat biasa saja, seperti rumah tua kebanyakan. Namun, ada satu

Selengkapnya »
Ilustrasi Cerpen Racun Icang (www.pinterest.com)

Racun Icang – Cerpen Karya Amanina Rasyid Wiyani

Matanya yang berkaca-kaca. Memandang jelas dengan pasrah ke sekumpulan polisi. Senyum menyeringai itu tak memberi kesempatan sedikit pun rasa takut untuk unjuk diri—namun matanya. Silaunya. Lebih mampu menanamkan kesedihan di hatiku. Ia tidak bersalah. Perempuan itu tidak bersalah. Tak mungkin ia meracuni Tete Iyak Aku percaya walau besok matahari terpecah

Selengkapnya »
Ilustrasi Biram (www.pinterest.com)

BIRAM – Cerpen Karya Sang Rindu

Fajar mulai meraba nyenyat, bahkan malam seakan taat dan perlahan tanggalkan semat. Di bawah kaki langit, tepat pada rumah tua di sudut kota dengan dingin yang menyengat, Djimakit sedang sibuk bergulat bersama kuas dan harkat. “Berhenti menatapku dengan tatapan mencemooh. Apa kamu lupa, So? Kamu dan aku sama-sama makan dari

Selengkapnya »
Ilustrasi Rekayasa Jilid Dua (www.pinterest.com)

Rekayasa Jilid Kedua – Cerpen Karya Yuditeha

Sudah tidak menjadi rahasia rakyat membenci Wibisana. Sebagai Wakil Presiden, seharusnya ia adalah lambang keseimbangan, penenang badai, tangan kedua yang menopang negara. Tapi di negara ini, Wibisana malah lebih sering dipanggil dengan nama-nama yang aneh, Pak Panggung, Pak Tidur, Pak Kentut. Semuanya berakar dari keyakinan bersama bahwa Wibisana itu tolol,

Selengkapnya »