Tanpa Judul dan Puisi Lainnya Karya Adnan Arinal Haq

Tanpa judul 

 ​Melihat taburan kepedulian di atas instansi kematian hanyalah suatu hal lazim bagi. imajinatif malaikat. ​Berseberangan di bawah rak sepatu TPU, seseorang mengeming:

 “Wajah-wajah ayat sekarang terdengar lirih & suaka iblis elektronik menghantui kenalan sukma semasa kecil dulu & memasak tumisan senyum bayangan lalu.”

Wajah itu menatap sentimen, napasnya menguras udara. Ia memakan dinamo kipas TPU; ia merasa bahwa isi dari kabel kipas itu menyobek tenggorokannya.

​Keluarlah ribuan pesan dari luka-luka & terus menganga & bertebangan pesan-pesan dari kantor pos kayangan. Ku tangkap satu surat itu. Di balik amplop ada tulisan:

  “Cara membacanya, bakarlah.”

​Ternyata isi dari surat itu adalah puisi

yang sedang kutulis Ini.

Batu Balian, 18 Februari 2026 

 

Pesta rakyat di ujung pipa sinus

 \I\

Segelas teh hangat melongsor di pipa sinus; hantaman miras melayukan bulu-bulu sekujur kaku. Teman-temani pecel lele menghidupkan kumus-kumis ini. Enak sekali wanginya, walaupun belum makan di sampingnya.

 \II\

Nada-nada, berlapis-lapis, dimakan-dimakan… kenyang uang, uang, uang berhambur sambil menggigit bibir. “Seksi sekali,” ucap tante cantik bermata belok. Nampaknya, aku cukup tua.

 \III\

Ha ha ha ha ha ha!

“Halu saja dirimu ini, tunggu anakmu saja,” ucap mata-mata merah yang haus akan miras sembilan puluh persen.

 \IIII\

Langkah demi langkah, kami pulang. Kebersamaan doa pulang; pesta rakyat.

Batu Balian, 23 Januari 2026

 

Sejadah Mata Mengikis Mata Hati

Ketika sujud…

Hal membesuk meintip gorden

dan beberapa pigora Mulia

​Hentakan kaki grusak grusuk berisik

Menyirami gendang telinga

 

​Kali ini…

ingin sekali ku akhiri keanyiran ini

Songkok hitam kembali bercerita

ia mengulang segala hal busuk itu

​Aku mengira tidak jadi Apa-Apa

 

tapi ternyata

Semesta Tau

Kapan keikhlasan itu tumbuh.

 Batu Balian, 22 Januari 2026

Baca Juga

Picture of Adnan Haq

Adnan Haq

Penulis ngasal, asal Kalimantan Selatan.