2008 dan Puisi Lainnya Karya Agoy Tama

Ilustrasi Puisi 2008 dan Lainnya (www.pinterest.com)
Ilustrasi Puisi 2008 dan Lainnya

2008

 

di sekolah menengah pertama aku biasa saja:

belajar matematika dengan giat

dan belajar mati-matian dengan niat

perihal cinta dan menulis sebuah surat.

 

di sekolah menengah pertama aku biasa saja:

membilang siapa saja paling menarik

dan menentukan siapa yang terbaik

tentang perasaan dan sekadar fisik.

 

di sekolah menengah pertama aku biasa saja:

dirundung teman-teman sebaya

dan kakak kelas yang kerap semena-mena

mengenai kita dan perasaan anak manusia.

 

di sekolah menengah pertama aku biasa saja:

gagal berkali-kali menembak pujaan hati

dan bertubi-tubi mengalami patah hati

menyoal aku + kamu yang ≠ kita.

 

9-3-2025 (23:56 wib)

2011

 

di sekolah menengah atas aku mengenal cinta:
pandangan pertama saat masa orientasi siswa

dan perkenalan pertama saat mendaftar organisasi

siswa intra-sekolah sebagai anggota baru pemula.

 

di sekolah menengah atas aku mengenal kamu:

perempuan memikat dan berbeda dari yang lain

bikin hati mengikat dan hendak bermain

petak umpet atau jungkat-jungkit paling rumit.

 

di sekolah menengah atas aku mengenal mereka:

teman-teman paling aneka dan aneh, kan!

kadang jadi tempat curhat paling tenang,

kadang jadi tempat buat saling serang.

 

di sekolah menengah atas aku mengenal semua:

bangku sekolah, papan tulis, kapur yang lebur,

juga guru-guru yang layak digugu dan ditiru,

tetapi tidak ketika guru kencing berdiri

dan murid kencing (di celana) sendiri.

 

10-3-2015 (00:16 wib)

 

2014

 

lambaian tangan bapak mengepak,

mata ibu berkata-kata dan terpecah,

aku berpamitan meminta doa agar sehat,

sukses, dan selamat dunia-akhirat.

 

3 tahunan aku bertahan di masjid,

demi menjaga iman dengan wirid

tetap hidup aman dan irit—

tak perlu bayar tagihan berdigit-digit.

 

berkuliah dan lulus di semester 13

sehabis 2 semester cuti kerja habis-habisan

di ibu kota demi bayar tunggakan dan

hal-hal lain memaksaku untuk terus mati-matian.

 

wisuda di tengah pandemi

mulut tertutup masa depan terbuka.

doa dari kedua orang tua menyertai:

semoga jadi anak yang tak lupa cara

mendoakan kedua orang tuanya di rumah

atau di alam berbeda ketika rindu

tak lagi mampu menuai temu.

 

aku adalah anak panah

melesat menuju titik terang cahaya

pada sebuah masa ketika redup adalah

neraka paling sempurna.

 

16-3-2025

 

2016

 

adik keduaku lahir pada bulan April,

16 hari setelah aku lahir, di tahun berbeda.

prediksi-prediksi manusia kerap meleset

seperti bidikan senapan kerap melesat

tidak 100% tepat.

 

nama-nama terpilih sebelum kontraksi terjadi

di ruang persalinan bidan maryam malam hari.

dan semuanya tak terpakai dan 7 hari terlewati

bayi kecil itu masih saja tak bernama siapa-siapa.

sebab, ia laki-laki, bukan perempuan seperti

hasil prediksi mesin-mesin canggih.

 

adik keduaku lahir setelah 21 tahun

aku hidup dengan banyak suka dan duka

menjadi ujian silih berganti bertahun-bertahan.

saat aku mendapat tawaran menikah

dan dua tahun kemudian gagal menikah.

 

adik keduaku lahir ketika aku berpikir:

menjadi seorang kakak adalah menjadi

bapak versi lain dengan tagihan-tagihan janji

agar dapat mengurusi adik-adik sepenuh hati

dan sewaktu bapak pergi, tanggung jawabnya

berpindah dari pundak seorang bapak

ke pundak seorang kakak.

 

namun, adik keduaku mengubah pikiran itu.

ia masuk ke dalam kepalaku sembari berbisik lirih:

aku bayi tak berdosa sebelum kalian memberi nama.

 

18-3-2025

 

2017

 

dua tahun aku sembunyikan bahagia

rapat-rapat di saku celana paling bawah.

mendadak meledak jadi remah-remah

setelah seorang perempuan jadi takdir

paling getir dan kenangan paling terkilir.

 

adalah pergi sejauh mungkin

mungkin sejauh pergi adalah

bisa memulihkan luka lama ini

ini lama luka memulihkan bisa

ular kata-kata terus melilitkan

tubuhnya di tubuhku menyakitkan.

 

biarkan lukanya menguar keluar

berupa uap-uap menyublim di udara

bersama memori kilat terbakar

api menghanguskan segala “semoga”

dan seketika kulupakan “amin-aminnya”.

 

sekarang doa-doa terbang ke langit

semoga dan amin-amin malaikat

menggema di bumi penuh sempit

manusia dan dunia kian hari kian melekat.

sudahi yang tak tergapai di atas sana

penuhi yang tak tercapai di bawah sini.

 

22-3-2025

 

Baca Juga: Kalbu Yang Tak Terbakar dan Puisi Lainnya Karya Muna Assyahidah

Baca Juga

Picture of Agoy Tama

Agoy Tama

Merajin kutipan, puisi, dan buku. Lahir di Malang, 10 April 1995. Sarjana Sastra Universitas Negeri Malang 2021. Pendiri penerbit digital Ruangrasa Project (@ruangrasaproject). Membagikan kutipan di X dan Threads. Menulis puisi di blog dan membacanya di Instagram & Tiktok (@agoytama). Menerbitkan tulisan berupa jurnal tentang pengembangan diri (kreativitas), pemikiran (spiritual), dan sastra (puisi) di Medium.com (Medium.com/@agoytama). Selengkapnya di linktr.ee/agoytama.