2008
di sekolah menengah pertama aku biasa saja:
belajar matematika dengan giat
dan belajar mati-matian dengan niat
perihal cinta dan menulis sebuah surat.
di sekolah menengah pertama aku biasa saja:
membilang siapa saja paling menarik
dan menentukan siapa yang terbaik
tentang perasaan dan sekadar fisik.
di sekolah menengah pertama aku biasa saja:
dirundung teman-teman sebaya
dan kakak kelas yang kerap semena-mena
mengenai kita dan perasaan anak manusia.
di sekolah menengah pertama aku biasa saja:
gagal berkali-kali menembak pujaan hati
dan bertubi-tubi mengalami patah hati
menyoal aku + kamu yang ≠ kita.
9-3-2025 (23:56 wib)
2011
di sekolah menengah atas aku mengenal cinta:
pandangan pertama saat masa orientasi siswa
dan perkenalan pertama saat mendaftar organisasi
siswa intra-sekolah sebagai anggota baru pemula.
di sekolah menengah atas aku mengenal kamu:
perempuan memikat dan berbeda dari yang lain
bikin hati mengikat dan hendak bermain
petak umpet atau jungkat-jungkit paling rumit.
di sekolah menengah atas aku mengenal mereka:
teman-teman paling aneka dan aneh, kan!
kadang jadi tempat curhat paling tenang,
kadang jadi tempat buat saling serang.
di sekolah menengah atas aku mengenal semua:
bangku sekolah, papan tulis, kapur yang lebur,
juga guru-guru yang layak digugu dan ditiru,
tetapi tidak ketika guru kencing berdiri
dan murid kencing (di celana) sendiri.
10-3-2015 (00:16 wib)
2014
lambaian tangan bapak mengepak,
mata ibu berkata-kata dan terpecah,
aku berpamitan meminta doa agar sehat,
sukses, dan selamat dunia-akhirat.
3 tahunan aku bertahan di masjid,
demi menjaga iman dengan wirid
tetap hidup aman dan irit—
tak perlu bayar tagihan berdigit-digit.
berkuliah dan lulus di semester 13
sehabis 2 semester cuti kerja habis-habisan
di ibu kota demi bayar tunggakan dan
hal-hal lain memaksaku untuk terus mati-matian.
wisuda di tengah pandemi
mulut tertutup masa depan terbuka.
doa dari kedua orang tua menyertai:
semoga jadi anak yang tak lupa cara
mendoakan kedua orang tuanya di rumah
atau di alam berbeda ketika rindu
tak lagi mampu menuai temu.
aku adalah anak panah
melesat menuju titik terang cahaya
pada sebuah masa ketika redup adalah
neraka paling sempurna.
16-3-2025
2016
adik keduaku lahir pada bulan April,
16 hari setelah aku lahir, di tahun berbeda.
prediksi-prediksi manusia kerap meleset
seperti bidikan senapan kerap melesat
tidak 100% tepat.
nama-nama terpilih sebelum kontraksi terjadi
di ruang persalinan bidan maryam malam hari.
dan semuanya tak terpakai dan 7 hari terlewati
bayi kecil itu masih saja tak bernama siapa-siapa.
sebab, ia laki-laki, bukan perempuan seperti
hasil prediksi mesin-mesin canggih.
adik keduaku lahir setelah 21 tahun
aku hidup dengan banyak suka dan duka
menjadi ujian silih berganti bertahun-bertahan.
saat aku mendapat tawaran menikah
dan dua tahun kemudian gagal menikah.
adik keduaku lahir ketika aku berpikir:
menjadi seorang kakak adalah menjadi
bapak versi lain dengan tagihan-tagihan janji
agar dapat mengurusi adik-adik sepenuh hati
dan sewaktu bapak pergi, tanggung jawabnya
berpindah dari pundak seorang bapak
ke pundak seorang kakak.
namun, adik keduaku mengubah pikiran itu.
ia masuk ke dalam kepalaku sembari berbisik lirih:
aku bayi tak berdosa sebelum kalian memberi nama.
18-3-2025
2017
dua tahun aku sembunyikan bahagia
rapat-rapat di saku celana paling bawah.
mendadak meledak jadi remah-remah
setelah seorang perempuan jadi takdir
paling getir dan kenangan paling terkilir.
adalah pergi sejauh mungkin
mungkin sejauh pergi adalah
bisa memulihkan luka lama ini
ini lama luka memulihkan bisa
ular kata-kata terus melilitkan
tubuhnya di tubuhku menyakitkan.
biarkan lukanya menguar keluar
berupa uap-uap menyublim di udara
bersama memori kilat terbakar
api menghanguskan segala “semoga”
dan seketika kulupakan “amin-aminnya”.
sekarang doa-doa terbang ke langit
semoga dan amin-amin malaikat
menggema di bumi penuh sempit
manusia dan dunia kian hari kian melekat.
sudahi yang tak tergapai di atas sana
penuhi yang tak tercapai di bawah sini.
22-3-2025
