Setiap kali lampu lalu lintas berganti warna menjadi merah di perempatan kota-kota besar, akan nampak pengulangan adegan yang seringkali tertangkap mata. Sosok anak kecil dengan setumpuk koran segar hari itu menawarkan dengan santun kepada orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya. Selain setumpuk koran biasanya tisu atau masker sering mereka bawa.
Berharap ada orang yang membutuhkan benda itu dan rela menukarnya dengan rupiah yang tidak seberapa. Namun, eksistensi mereka tidak selalu tampak di pelupuk orang-orang itu. Kenyataan ini membawa ingatan kembali ke dongeng anak-anak Hans Christian Andersen yang berjudul The Little Match-Seller. Meskipun ditulis ratusan tahun lalu dalam ruang dan waktu yang jauh berbeda, benang merah yang lekat dengan kondisi sosial masyarakat kita hari ini masih dapat ditemukan pada kisah tragis gadis kecil penjual korek api tersebut.
Sedikit Tentang Gadis Penjual Korek Api itu
The Little Match-Seller mengisahkan seorang anak perempuan yang terus berjalan di tengah dinginnya salju pada malam tahun baru. Tanpa alas kaki dan berbalut baju tipis, ia dipaksa ayahnya berjualan korek api. Sepanjang hari, tidak ada satu orang pun yang membeli dagangannya atau memberinya sekeping uang koin. Anak itu merasa takut untuk pulang ke rumah karena tahu sang ayah akan memukulnya jika ia kembali tanpa membawa uang. Di tengah rasa dingin yang menggerogoti tubuh kecilnya, ia terduduk di sudut jalan antara dua rumah. Demi mengusir hawa dingin yang menusuk kulit, ia memberanikan diri memantik sebatang korek api. Dalam pendar cahaya korek api yang terbatas, cahayanya membawa gadis itu dalam deretan ilusi yang indah. Tergambar angsa panggang yang hangat, pohon Natal yang megah, hingga bayangan sang nenek yang mencintainya. Korek demi korek ia bakar hingga akhirnya ia ditemukan meninggal membeku di pagi hari dengan senyum di bibirnya.
Menengok Fakta
Jika melihat data dari Kementerian Sosial, yakni Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) SIKS-NG, ada 67.368 anak terlantar di Indonesia. Angka puluhan ribu ini membuktikan bahwa kisah The Little Match-Seller masih tetap hidup di Indonesia. Anak-anak yang seharusnya memegang buku sekolah atau menikmati masa kecilnya justru harus berpacu dengan ganasnya jalanan untuk berjuang menghidupi dirinya atau bahkan keluarganya.
Keterlibatan anak di jalanan bukanlah sengaja mereka pilih. Hal tersebut merupakan akumulasi dari kemiskinan struktural dan minimnya jaring pengaman sosial keluarga. Sayangnya, intervensi yang dilakukan sering kali masih berfokus pada penanganan di permukaan, seperti razia penertiban atau bantuan yang bersifat sementara. Ketika penanganan berhenti pada tindakan represif tanpa menyelesaikan akar masalah di tingkat keluarga, seperti kerentanan ekonomi orang tua dan akses pendidikan yang terbatas, anak-anak ini akan selalu kembali ke perempatan jalan. Pendekatan semacam ini justru melanggengkan siklus kemiskinan antar-generasi yang membelenggu kehidupan mereka.
Kenyataan ini terasa semakin getir ketika melihat bagaimana anak-anak jalanan bertahan di ruang kota. Dalam The Little Match-Seller, pendar nyala korek api hanya menghadirkan kehangatan semu yang pupus dalam hitungan detik. Pada realitanya, sekeping uang receh dari balik kaca mobil maupun bantuan yang hanya atas dasar belas kasihan memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda. Semua itu hanya memberikan daya tahan sesaat untuk melewati hari tanpa pernah benar-benar menyelamatkan mereka dari cengkeraman kemiskinan struktural. Tanpa adanya pemenuhan hak dan keberpihakan kebijakan, usaha anak-anak ini untuk bertahan hidup akan selalu berujung pada ilusi “kehangatan” di tengah kerasnya ruang kota.
Di Balik Tabir yang Katanya Sekadar Cerita
Selama ini makna cerita anak sering dipersempit sebagai hiburan semata. Padahal, jika dilihat melalui The Little Match-Seller, Hans Christian Andersen menyajikan kritik sosial mengenai rapuhnya posisi anak ketika hanya dipandang sebagai alat saja. Kenyataan ini sejalan dengan pandangan mendasar yang ditegaskan oleh UNICEF dalam Konvensi Hak Anak (KHA) tahun 1989, yang menekankan bahwa anak adalah subjek manusia mandiri yang memegang hak asasi seutuhnya. Ketika pengasuh utama tidak mampu atau justru membiarkan anak terjerat dalam siklus bertahan hidup di jalanan, negara sebagai pemangku kewajiban utama harus hadir memberikan pengasuhan alternatif dan jaminan perlindungan demi kepentingan terbaik bagi anak.
Menghidupkan komitmen perlindungan tersebut menuntut pemenuhan empat pilar utama hak anak secara utuh, yakni hak atas hidup, hak perlindungan, hak tumbuh kembang, dan hak partisipasi. Tentu hak-hak tersebut harus terpenuhi secara real tidak hanya administratif saja. Misalnya hak atas hidup tidak hanya sekadar jaminan identitas melalui akta kelahiran. Akan tetapi, aspek atas keberlangsungan hidup, seperti akses kesehatan, gizi, air bersih, pendidikan dan tempat tinggal yang aman, harus terjamin.
Selain peran negara, respons masyarakat urban juga turut menentukan nasib anak-anak ini. Di tengah hiruk-pikuk kota besar, kehadiran anak penjual koran atau tisu sering kali dianggap sebagai pemandangan biasa. Sebagian orang memberikan sekeping uang atas dasar belas kasihan sesaat, sementara yang lain memilih menutup kaca mobil dan berpaling. Tindakan mengabaikan ini secara tidak langsung mengamini keheningan warga kota dalam merespons gadis kecil yang kedinginan di sudut jalan pada karya Hans Christian Andersen. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepedulian publik dapat terdistraksi sehingga rasa empati kolektif terkikis. Efeknya tragedi sosial tersebut menjadi sekadar latar belakang kehidupan kota.
Anak-anak di perempatan lampu merah pada akhirnya menghadapi bayang-bayang nasib yang serupa dengan gadis penjual korek api ketika hak mereka terabaikan. Lembaran koran, tisu, dan masker yang mereka jual sejatinya adalah jelmaan “korek api” untuk menyambung keberlangsungan hidup. Di sinilah hak-hak mereka harus diberikan. Negara dan masyarakat tidak boleh membiarkan masa kecil mereka habis terbakar di jalanan. Keduanya harus hadir untuk menjamin ruang tumbuh yang aman dan sejahtera, serta memastikan masa depan mereka tak lagi redup ditelan duka dan sengsara.




