Nyangkem Hari Ini
Esai

Bila Kepribadian Berwujud Satwa: Membedah Kontrol Perilaku dalam His Dark Material

Avatar Penulis Arindi Aulia Nada 31 Oktober 2026 · 5 menit baca Editor Imam Gazi Al Farizi
BAGIKAN:
Bila Kepribadian Berwujud Satwa: Membedah Kontrol Perilaku dalam His Dark Material
Ilustasi

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana jadinya jika seluruh gejolak emosi, karakter, dan isi pikiran kita tidak tersembunyi rapi di dalam kepala, melainkan terwujud dalam bentuk fisik seekor hewan yang terus berjalan di samping kita?

Di dalam dunia fantastis trilogi His Dark Materials karya penulis ternama Philip Pullman, konsep yang terkesan mustahil ini justru menjadi gambaran nyata sehari-hari. Di sana, setiap manusia terlahir mendampingi seekor makhluk berakal bernama daemon, yang sebenarnya merupakan proyeksi langsung dari jiwa atau identitas internal mereka sendiri. Sekilas, kehadiran makhluk ini membuat cerita terasa seperti sebuah dongeng petualangan. Beda halnya jika kita berbicara agak serius menggunakan kacamata psikologi sastra, tepatnya teori Behaviorisme, dunia fantasi Pullman sebenarnya sedang menawarkan panggung eksperimen sosial yang membedah bagaimana perilaku manusia dibentuk, dikontrol, serta ditekan secara sistematis.

Sedikit Tentang Behaviorisme

Dalam kajian psikologi behaviorisme yang dipelopori oleh tokoh-tokoh besar seperti B.F. Skinner dan John B. Watson, seluruh bentuk kepribadian dan tindakan manusia pada dasarnya dipandang sebagai hasil dari interaksi antara stimulus (rangsangan lingkungan), respons (tanggapan fisik maupun emosional), serta proses conditioning (pengkondisian bertahap). Sederhananya, manusia  selalu bergerak berdasarkan pola kebiasaan yang diperkuat (reinforcement) atau ditahan (punishment) oleh dunia luar.

Dunia His Dark Materials

Ketika seseorang masih berada di masa kanak-kanak, wujud daemon mereka bersifat sangat fleksibel atau fluid. Seekor daemon anak-anak bisa berubah dari burung hantu menjadi kucing, lalu berganti menjadi serangga hanya dalam hitungan detik, tergantung pada perubahan situasi dan kondisi emosional si anak. Dari sudut pandang behaviorisme, fenomena perubahan bentuk ini secara sempurna menggambarkan plasticity atau kelenturan perilaku anak yang masih belum terpengaruh oleh pengkondisian lingkungan secara permanen. Anak-anak masih mencari bentuk respons yang paling sesuai terhadap dunia sekitar mereka.

Namun, situasi ini akan berubah secara drastis begitu seseorang menginjak masa pubertas. Pada fase pendewasaan ini, daemon mereka akan mengalami proses yang dinamakan settling, yaitu berhenti berubah dan menetap menjadi satu bentuk hewan tunggal untuk selamanya. Momen settling ini pada hakikatnya adalah simbolisasi dari hasil akhir operant conditioning. Bentuk hewan yang akhirnya menjadi permanen itu merefleksikan kepribadian, pola pikir, dan kebiasaan yang sudah terpatri kuat dalam diri individu itu. Semuanya disebabkan oleh stimulus lingkungan sepanjang masa kecilnya. Seseorang yang dibesarkan di lingkungan yang menuntut kepatuhan mutlak mungkin akan mendapati daemon-nya menetap menjadi anjing penurut, sementara mereka yang terbiasa bertahan hidup secara independen di alam liar mungkin akan memiliki daemon berwujud burung pemangsa yang selalu waspada.

Kehadiran Kontrol Magisetrium

Dalam dunia His Dark Materials muncul adanaya lembaga teokrasi otoriter bernama Magisterium. Dalam telaah behavioristik, Magisterium bertindak sebagai agen kontrol lingkungan utama yang lihai memanipulasi masyarakat. Mereka menerapkan mekanisme aversive conditioning, teknik pengkondisian menggunakan rasa takut dan ancaman, untuk memastikan seluruh populasi tetap tunduk. Magisterium secara terus-menerus menghembuskan doktrin bahwa partikel misterius bernama Dust adalah manifestasi dari Dosa Asal yang sangat berbahaya. Melalui penanaman rasa takut ini, masyarakat terkondisikan untuk patuh dan takut melakukan penyimpangan pemikiran.

Manipulasi yang dilakukan Magisterium tak berhenti disitu, selanjutnya ia memisahkan secara paksa anak-anak dari daemon mereka. Dengan memotong ikatan fisik antara manusia dan daemon-nya, Magisterium secara sengaja mematikan umpan balik emosional dalam diri anak. Dan yang terjadi, anak-anak berubah menjadi sosok yang apatis, kehilangan gairah hidup, dan mengalami pasivitas perilaku total. Mereka kehilangan kemampuan untuk merespons dunia secara mandiri, sehingga dengan sangat mudah didikte dan dikendalikan oleh otoritas Magisterium.

Proses Pembentukan Ulang Perilaku

Lantas, bagaimana dengan dinamika psikologis dari sang tokoh utama, Lyra Belacqua? Karakter Lyra justru menyajikan contoh mengenai bagaimana proses pembentukan ulang pola perilaku yang dapat terjadi ketika seseorang berpindah ke lingkungan baru. Pada awal cerita, Lyra dibesarkan di lingkungan akademis Jordan College yang cukup bebas dan longgar. Di sana, ia mengembangkan kebiasaan berbohong dan bersiasat. Karena kebohongannya kerap berhasil menyelamatkan dirinya dari masalah, keberhasilan itu menjadi penguat positif yang memperkuat kebiasaan berbohong tersebut hingga ia dijuluki Silvertongue.

Lain halnya saat Lyra terlempar keluar dari zona nyamannya dan harus menjelajahi Kutub Utara yang penuh  marabahaya. Stimulus lingkungan di sekitarnya berubah secara total. Interaksinya dengan figur-figur baru yang penuh integritas, seperti suku pengembara Gyptian, petualang Lee Scoresby, serta raja beruang Berzirah Iorek Byrnison, menghadirkan pola pengkondisian yang sama sekali baru. Lyra mengubah kecerdikan tersebut menjadi kemampuan taktis demi melindungi orang-orang yang ia sayangi dan mengungkap kebenaran di balik Alethiometer. Perubahan lingkungan secara perlahan merombak respons emosional dan moralitas Lyra menjadi pribadi yang makin dewasa serta bertanggung jawab.

Merebut Kembali Kendali Diri

Pada akhirnya, melalui kacamata psikologi sastra behaviorisme, kita dapat melihat novel fantasi karya Philip Pullman ini menunjukkan bahwa sekalipun instansi yang berkuasa dapat menggunakan doktrin, rasa takut, dan pengkondisian paksa untuk membentuk manusia menjadi penurut yang pasif, manusia tetap memiliki kapasitas untuk melakukan resistensi. Seperti apa yang ditunjukkan oleh Lyra, ketika seseorang berani keluar dari kungkungan pengkondisian lama dan terpapar pada pengalaman hidup yang jujur, ia akan mampu merebut kembali kendali penuh atas perilaku, pikiran, dan masa depannya sendiri.

Editor: Imam Gazi Al Farizi

Avatar

Arindi Aulia Nada

Penulis di Nyangkem.id. Lihat arsip untuk semua tulisannya.

Tulisan Terkait

Arsip Esai →
Berhasil!