Malam datang tanpa mengetuk. Di kamar sempit berukuran tiga kali empat meter, aku duduk di depan meja belajar yang catnya mulai mengelupas. Lampu di langit-langit bergoyang pelan ketika angin lewat dari jendela. Di atas meja itu, ada satu benda yang tak pernah berpindah tempat: foto keluarga kami dalam bingkai kayu yang sedikit retak di sudutnya.
Di foto itu, aku berdiri di antara Ayah dan Ibu. Aku masih kecil, mungkin umur enam atau tujuh tahun. Kami tersenyum ke arah kamera—senyum yang dulu terasa biasa saja, tapi kini seperti doa yang terhenti di udara. Kadang aku menatapnya terlalu lama, seolah dari sana bisa kudengar gema tawa yang dulu tinggal di rumah kami.
Kamar kosku sederhana. Kasur tipis, meja belajar, gantungan baju di dinding. Di pojok, ada panci bekas mi instan yang belum sempat dicuci. Di rak atas, buku kuliah menumpuk bersama skripsi kakak tingkat yang kupinjam tapi belum kukembalikan. Dari jendela kecil, cahaya lampu jalan masuk samar-samar, memberi warna lembut pada foto itu—warna yang tidak pernah padam meski malam berulang setiap hari.
Setiap malam aku menatapnya. Bukan karena rindu yang menyakitkan, tapi karena di sana aku menemukan alasan untuk terus berjalan.
Pukul sembilan malam, suara temanku, Bagas, terdengar dari luar pintu. “Den, nongkrong yuk. Anak-anak mau ke warkop depan.”
Aku melongok sedikit.
“Enggak, Gas. Capek. Besok kelas pagi.”
“Kelas pagi jam sepuluh, bego!” katanya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa, tapi tetap menggeleng. Setelah langkahnya menjauh, aku kembali ke meja belajar. Di layar laptop, tugas kuliah menunggu, tapi mataku malah tertuju lagi ke foto itu.
Kadang aku merasa, foto itu seperti saksi yang terlalu sabar. Ia melihat semua versiku—versi kecil yang takut, versi remaja yang marah, dan versi sekarang yang sedang belajar memaafkan.
Kukeluarkan kopi sachet dari laci, menuangkannya ke dalam gelas. Bunyi air panas dari dispenser kos bercampur dengan desis kecil, seperti bisikan yang menenangkan. Aku meneguknya perlahan, lalu menatap layar laptop. Tapi sebelum jemariku menyentuh papan ketik, aku bicara pelan ke arah foto.
“Hari ini aku baik-baik aja, kok.”
Tentu tak ada jawaban. Tapi diamnya terasa seperti jawaban yang paling jujur.
Pagi datang seperti biasa. Jalanan kampus ramai oleh mahasiswa yang terburu-buru. Di kantin, aku bertemu Marga, teman sekelasku.
“Kamu kelihatan nggak tidur,” katanya sambil tersenyum. “Ngerjain tugas sampai pagi.”
“Kopi lagi ya?”
“Kayaknya udah jadi darahku,” jawabku.
Kami tertawa kecil. Setelah kelas, kami berbincang sebentar di depan gedung. Ia bercerita tentang keluarganya yang baru pindah ke luar kota. Saat ia menyebut “Ayah” dan “Ibu”, aku hanya diam.
“Kamu kangen rumah nggak?” tanya Marga.
“Aku nggak tahu rumahku yang mana sekarang,” jawabku pelan. “Tapi aku masih punya foto yang bisa kusapa.”
Marga tak bertanya lagi. Tapi dari tatapannya, aku tahu ia mengerti.
Sore turun pelan. Hujan mengguyur halaman kampus, menimbulkan suara seperti jari- jari kecil yang mengetuk genting. Aku berjalan cepat pulang ke kos, jaketku setengah basah. Begitu masuk kamar, aku menyalakan lampu, menaruh tas, lalu duduk di tepi kasur.
Aku memandangi foto di meja. Ada sesuatu yang tenang dari hujan di luar dan cahaya lampu di dalam ruangan. Aku membuka laci, mengambil selembar surat lama—surat dari Ibu, ditulis bertahun-tahun lalu sebelum semuanya berubah. Tulisan tangannya
miring dan lembut:
“Nak, kalau suatu hari kamu lelah, jangan berhenti di situ. Dunia nggak selalu ramah, tapi kamu punya hati yang kuat. Jangan benci siapa pun—termasuk kami.”
Aku membaca kalimat itu perlahan. Tidak ada air mata, hanya rasa hangat yang mengalir pelan. Aku melipat surat itu kembali, menaruhnya di bawah bingkai foto.
Malamnya, Bagas kembali mengetuk pintu.
“Den, serius lo nggak mau nongkrong? Nanti stres lo!” “Udah, besok aja.”
“Ngobrol sama foto lagi, ya?” godanya. Aku tertawa kecil dari balik pintu.
“Biarin. Dia nggak cerewet kok.”
Setelah ia pergi, aku duduk lagi di depan meja. Lampu kupadamkan setengah. Hanya foto itu yang tertinggal di bawah cahaya kuning.
Wajah Ayah di sana tampak muda, matanya hangat. Ibu berdiri di sisi lain, senyumnya seperti cahaya pagi. Dan aku kecil di tengah mereka, dengan senyum yang belum tahu apa-apa tentang kehilangan.
“Terima kasih,” gumamku pelan. “Kalau bukan karena kalian, aku nggak akan tahu rasanya bertahan.”
Aku menutup mata sebentar. Di dalamnya, kulihat rumah lama kami—kursi kayu, kipas angin berderit, suara Ibu memanggil makan. Semua itu datang dan pergi seperti bayangan, tanpa amarah.
Ketika kubuka mata, malam sudah benar-benar sunyi. Aku menepuk debu di bingkai foto itu.
“Sampai ketemu besok, ya.”
Aku mematikan lampu meja. Dalam kegelapan, pantulan wajahku di kaca bingkai masih terlihat samar. Entah kenapa, malam itu aku tersenyum. Untuk pertama kalinya, bukan karena rindu—tapi karena akhirnya aku benar-benar bisa berdamai.
Madiun, Oktober 2025
