KOTA TUA
O, langit tua
di kota yang renta
Tak ada capung dan kupu-kupu
di antara bunga liar penuh debu itu
hanya derap langkah kaki terburu-buru
tanpa ucap sapa, tanpa ramah gurau
Burung-burung tak memiliki pohon
yang semestinya mereka kunjungi
hanya bentang kabel dan tiang beton
gedung kaca dan kawat berduri
O, langit tua
di kota yang renta
hanya gegumpalan asap hitam kelam
dan awan yang tersisa kian mengangkasa
(Jakarta, 2024)
SESAL
Sesalku barangkali mata yang khawatir
milik seekor kucing yang membenci air
atau perasaan muak daun-daun putri malu
yang menolak disentuh jari-jari tanganmu
Sementara bahasa telah lama kehilangan makna
ketika negara gemar berpidato di tajuk berita
puisi ini hanya butuh satu kata, ‘bergeraklah’
untuk menyentuh jantung pikiran yang lelah
Aku ingin percaya pada arti kata itu
untuk melewati sepi & patah arang ini
sekali lagi- terakhir kali
(Surakarta, 2025)
PARA NELAYAN
Sebulan setelah hari ini
kami mungkin tak pernah mahir
mensiasati waktu
atau menyingkap jarak
yang dibentangkan oleh mei
yang terkasih.
Perasaan aneh mengepung para nelayan
yang lelap selepas hujan dan
perburuan yang panjang.
Cuma langit yang tak seimbang
mempertontonkan mendekatnya fajar
atau gejolak ombak
menghempas dinding karang
menambah bimbang
kapal-kapal nelayan.
Hari masih terlalu pagi
dan cahaya mentari menyebakan
permukaan laut berkilau
seolah gentar dan gemetar
mengusir burung-burung camar
yang semalam menjaga pantai.
Cakrawala tak leluasa di barat
di timur garis lintang membujur.
Perasaan aneh kembali
mengepung kami
ketika musim-musim
berganti dan menyisakan
kehilangan di jantung bahari.
(Yogyakarta, 2021)
