Kota Tua dan Puisi Lainnya Karya Pitrus Puspito

KOTA TUA

O, langit tua 

di kota yang renta

 

Tak ada capung dan kupu-kupu

di antara bunga liar penuh debu itu

hanya derap langkah kaki terburu-buru

tanpa ucap sapa, tanpa ramah gurau

 

Burung-burung tak memiliki pohon

yang semestinya mereka kunjungi

hanya bentang kabel dan tiang beton

gedung kaca dan kawat berduri

 

O, langit tua

di kota yang renta

hanya gegumpalan asap hitam kelam

dan awan yang tersisa kian mengangkasa

(Jakarta, 2024)

 

SESAL

Sesalku barangkali mata yang khawatir

milik seekor kucing yang membenci air

atau perasaan muak daun-daun putri malu

yang menolak disentuh jari-jari tanganmu

 

Sementara bahasa telah lama kehilangan makna

ketika negara gemar berpidato di tajuk berita 

puisi ini hanya butuh satu kata, ‘bergeraklah’

untuk menyentuh jantung pikiran yang lelah 

 

Aku ingin percaya pada arti kata itu

untuk melewati sepi & patah arang ini

sekali lagi- terakhir kali

(Surakarta, 2025)

 

PARA NELAYAN

Sebulan setelah hari ini

kami mungkin tak pernah mahir

mensiasati waktu 

atau menyingkap jarak 

yang dibentangkan oleh mei

yang terkasih.

Perasaan aneh mengepung para nelayan

yang lelap selepas hujan dan 

perburuan yang panjang.

 

Cuma langit yang tak seimbang

mempertontonkan mendekatnya fajar

atau gejolak ombak

menghempas dinding karang

menambah bimbang 

kapal-kapal nelayan. 

 

Hari masih terlalu pagi

dan cahaya mentari menyebakan

permukaan laut berkilau

seolah gentar dan gemetar

mengusir burung-burung camar

yang semalam menjaga pantai.

 

Cakrawala tak leluasa di barat

di timur garis lintang membujur.

Perasaan aneh kembali

mengepung kami

ketika musim-musim 

berganti dan menyisakan

kehilangan di jantung bahari.

(Yogyakarta, 2021)

 

Baca Juga

Ilustrasi Cerpen Pria Mencari Lamaran Pekerjaan (CanvaAI/Prompter Ridhoi)
Picture of Pitrus Puspito

Pitrus Puspito

Pitrus Puspito adalah guru dan penulis. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen dan esai, pernah dimuat di media cetak maupun digital. Buku tunggalnya yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018). Dapat disapa melalui akun instagram: @pitruspiet.