Bola Sudah Bicara, Kita Saja yang Pura-Pura Tuli

Ilustrasi Bola (Dokumen Pribadi)
Ilustrasi Bola

Bola tidak pernah berbohong. Dalam riuh tribun dan kilatan kamera, bola sesungguhnya sudah memberi tahu segalanya. Hanya saja, kita sibuk bersorak dan memilih tuli saat kebenaran memantul di depan mata.

Ruly R. rupanya tega juga. Bayangkan, ia memadatkan sisi gelap dan getir sepak bola ke dalam 42 kartu seukuran kartu remi. Bukan babak perpanjangan waktu, bukan adu penalti dramatis, ini babak retak yang tidak pernah tercatat di papan skor. Kita, para penonton yang biasanya sibuk menghitung jumlah assist dan gol indah, tiba-tiba dipaksa menatap wajah sepak bola yang berbeda. Gambaran wajah kusut seorang bapak yang kehilangan anaknya di pintu gerbang stadion. Raut wajah striker muda yang patah mimpinya sebelum sempat debut. Wajah suporter yang suaranya lenyap bukan karena kehabisan teriakan, tetapi karena kehabisan napas.

Membaca Babak Retak/Muara Tragedi

Cover Kumpulan Cerita Babak Retak/Muara Tragedi

Membaca kumpulan cerita ini seperti menemukan catatan rahasia di balik poster-poster indah. Kartu-kartu kecil ini menolak untuk sekadar menjadi hiasan lucu yang akan diselipkan di dompet. Setiap cerita, seringkali hanya beberapa baris namun terasa menggigit, menampar, lalu pergi. Ada satu kartu tentang tubuh-tubuh yang terhimpit di gerbang stadion; tidak ada identitas, tidak ada statistik, hanya napas terakhir yang tercecer. Bisa jadi di luar sana ada banyak kisah seorang pemain yang baru dipanggil masuk lapangan saat timnya kalah telak, bukan karena butuh, tetapi agar mereka punya kambing hitam. Lalu adakah wasit yang lupa membawa peluit cadangan, dan pertandingan berubah menjadi drama di mana pemain berlari-lari kebingungan, penonton tertawa, lalu teringat bahwa di luar sana ada keluarga yang tak pernah pulang dari laga sebelumnya?

Ruly tahu betul, sepak bola bukan hanya tentang euforia stadion dan angka-angka yang berlarian di layar televisi. Ia menguliti mitos olahraga rakyat yang katanya menyatukan bangsa, tapi bukankah pagar kawat berduri yang memisahkan tribun juga bagian dari penyatuan itu? Kartu-kartunya menyodorkan ironi: sorak sorai bisa lebih bising daripada jeritan minta tolong, dan bendera klub bisa lebih sakral daripada nyawa manusia. Kita sering mengagungkan fair play, tetapi tidak pernah mau melihat siapa yang diseret keluar lapangan saat skor sudah tak bisa diubah.

Tapi, Ini Sepakbola …

Ada sarkasme halus yang merayap di banyak kartu. Misalnya kisah tentang Tangan Tuhan. Apakah benar ada tangan Tuhan? Bukankah Tuhan tidak sedang bermain bola? Ada kisah lain tentang Gas yang kali ini bertugas sebagai narator. Lalu di sebuah kisah, terkadang bola tidak bulat, tapi bersudut tajam. Yang lain lagi, bukan hanya di dunia cerita kita disuguhi tokoh fiktif, bahkan di dunia bola pun ada. Atau munculnya tiga angka nestapa (135), jiwa sejumlah tersebut di Kanjuruan yang sampai sekarang tidak benar-benar diurus oleh negeri ini. Atau cerita kisah paradoks tentang ungkapan bijak di tribun yang berdampingan dengan caci maki dan kutuk. Kartu-kartu ini memaksa kita mengakui bahwa sepak bola kadang lebih mirip bisnis tontonan dengan stadion sebagai pasar malam, di mana nyawa dan nurani bisa jadi barang obral.

Namun Ruly bukan penulis yang hanya mengobral kemarahan. Di beberapa kartu, ia menyisipkan haru yang menyayat. Ada cerita tentang orangtua yang setia menunggu anaknya yang tak kunjung pulang. Seperti biasa mereka ingin mendengar cerita anaknya usai melihat pertandingan, namun tak lagi kesampaian. Ada kisah seorang anak yang selalu meraih tangan ibunya setiap kali terlepas, dan berita yang muncul esok hari, stadion itu telah menjadi saksi bisu kedua tangan mereka terlepas selamanya. Kartu-kartu ini tidak hanya membuat kita meringis, tersenyum getir, atau membuat di area mata menjadi sedikit panas. Tapi di balik semua kegilaan itu, di sepak bola tampaknya selalu ada cinta yang membuat orang rela melakukan sesuatu hanya untuk berdiri di tribun berdesak-desakan.

Kartu yang Apa Adanya

Yang membuat karya ini menggigit adalah keberanian Ruly untuk tidak menawarkan solusi manis. Ia tidak mengajari kita tentang manajemen stadion atau reformasi federasi. Ia hanya menunjukkan: lihat ini, rasakan ini. Bola bundar yang katanya adil ternyata bisa jadi saksi bisu dari ketidakadilan. Peluit panjang tidak selalu mengakhiri pertandingan; kadang tragedi baru saja dimulai. Ia tahu, kita hidup di dunia di mana highlight gol lebih sering dibagikan daripada berita tentang suporter yang pingsan di tangga stadion.

Membaca karya ini, rasanya seperti memegang fragmen-fragmen memori yang tercecer di lapangan becek. Setelah membaca kartu-kartu ini mungkin kalian akan bisa menambahkan tragedi-tragedi lain, yang akan membuat kartu itu semakin bernyawa. Kalian bisa bercerita tentang sepatu bolong seorang bocah kampung yang bermimpi menjadi striker nasional. Sebelum  mimpinya sempat matang,  lapangan mereka berubah menjadi parkiran alat berat.  Atau kisah lain, misalnya seorang wasit yang pulang ke rumah dan menemukan istrinya sudah tak tahan lagi dengan teror suporter; ia menaruh peluit di meja makan dan menyadari bahwa kadang pertandingan paling sulit bukan di lapangan, tapi di  rumahnya.

Ruly juga menggoda sisi sinis kita: bukankah kita semua, dengan cara tertentu, bagian dari tragedi ini? Kita yang meneriakkan ejekan, kita yang menutup mata pada pagar kawat berduri, kita yang merayakan skor tapi lupa nama-nama yang hilang. Di satu kartu, ia menulis tentang kisah puntung rokok, seseorang telah mengakui. ia yang membuang puntung rokok tapi ia mengatakan bahwa ia tidak tahu siapa yang menutup pintu. Sebuah kalimat pengakuan pendek yang menjadi mata untuk melihat, ada kengerian yang sengaja diciptakan oleh orang-orang tertentu.

Menyalakan Lampu di Sudut Gelap Stadion

Kartu-kartu ini bisa membuat pembaca terharu, bukan karena dramatisasi, tetapi karena kesederhanaannya. Kekuatan Ruly adalah memeras emosi besar menjadi cerita mini.  Ada momen ketika membaca salah satu cerita, Anda mungkin akan tertawa—lalu segera merasa bersalah karena tertawa saat Anda membuka kartu yang selanjutnya. Itulah sihir sarkasme dan satire yang ia taburkan.

Judul Babak Retak/Muara Tragedi sendiri sudah seperti peringatan: retakan-retakan kecil itulah yang mengalir menuju muara yang lebih besar. Sepak bola mungkin tak pernah berhenti, bahkan ketika nyawa-nyawa berhenti. Dan buku ini, atau tepatnya kumpulan kartu ini, adalah cara Ruly mengingatkan: jangan pernah percaya bahwa skor akhir adalah segalanya. Ada babak-babak yang tidak ditayangkan, yang tidak masuk berita, yang hanya tercatat di ingatan orang-orang yang pernah berdiri di balik kawat berduri.

Mungkin inilah esensi kemanusiaan yang diam-diam dikirimkan Ruly melalui kartunya dengan media terbit Mesin Rekan: bahwa sepak bola dan hidup, selalu lebih besar dari angka-angka di papan skor. Bahwa kita, yang sering mabuk euforia, perlu sesekali dipaksa menunduk, menatap luka yang sering kita abaikan. Bahwa di balik stadion megah dan iklan-iklan glamor, ada suara lirih yang berkata: “Kami pernah ada, kami pernah bersorak, tapi kami juga pernah retak.”

Membaca karya ini seperti menyalakan lampu di sudut gelap stadion. Barangkali anda tidak suka dengan apa yang dilihat, tapi setelah itu, Anda tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu. Dan mungkin, saat lain kali kita berteriak gol, kita akan mengingat bahwa di luar sana, ada babak-babak yang tidak pernah berhenti. Babak yang membuat sepak bola lebih manusiawi, atau justru, lebih jujur tentang ketidakmanusiawiannya.**

 

Penulis : Yuditeha

Editor : Imam Gazi Al

Baca Juga:Menyampaikan Pesan dari Seluruh Tribun yang Tak Pernah Mati: Semua ini Untukmu Persebaya

Baca Juga

Ilustrasi Jouska Marhun
Picture of Yuditeha

Yuditeha

Penulis yang tinggal di Karanganyar. Dapat ditemui di Instagram @yuditeha2